Apa yang harus saya lakukan ketika malas berdoa lagi karena tidak dikabulkan untuk masuk PTN, padahal sudah melaksanakan berbagai amalan yang dianjurkan?

https://qr.ae/pN2i1P

Apakah Anda sudah shalat Dhuha 40 hari berturutan?

Apakah Anda sudah bersholawat pagi dan petang 100 hari berturutan? Jawaban Ferli Deni Iskandar untuk Bagaimana kedahsyatan sholawat yang pernah kamu rasakan?

Apakah Anda sudah membaca Al-Waqiah 70 kali dalam semalam?

Kalau Anda belum melakukan itu semua supaya Anda lulus PTN, maka bersyukurlah, karena Anda telah menghemat banyak waktu dengan tidak melakukan hal yang tidak berkontribusi dalam upaya Anda masuk PTN.

Bahkan Anda perlu lebih bersyukur lagi karena telah terhindar dari dosa besar.

Yaitu dosa besar memperlakukan Tuhan Anda, Tuhan saya, Tuhan kita semua, seperti vending machine, yang ketika kita berikan recehan, mesin itu “mengabulkan doa” permintaan food & drink untuk hasrat biologis kita.

Doa lulus PTN itu recehan.

Dapat PTN juga relatif adalah rezeki recehan (saya diterima berkuliah S1 dan S2 di 2 PTN berbeda – saya bersyukur tapi setelah itu perjuangan hidup tidak menjadi lebih mudah, malah semakin berat).

Recehan, benar.

Dibandingkan do’a untuk menjadi manusia yang dekat dengan Dia, sehingga semua masalah dan tantangan hidup jadi terasa sepele.

Dibandingkan do’a untuk selamat di dunia dan akhirat dan diberi keteguhan hati melakukan apapun yang dibutuhkan untuk mencapainya.

PTN itu bukan status Anda, itu status lembaga yang dikelola manusia saja.

Status Anda, maqom Anda, adalah apa yang menjadi bagian internal dan inheren dalam keseluruhan diri Anda, jiwa dan raga, mental dan fisik, spiritual dan material.

Berdoalah, mintalah hal-hal besar untuk diri Anda.

Jangan sekedar minta lulus PTN.

Apalagi bila upaya Anda hanya sekedar “do’a memperlakukan Tuhan sebagai vending machine“.

Berdoalah dengan keringat Anda.

Berdoalah dengan airmata Anda.

Berdoalah dengan nyeri hati kegagalan Anda.

Berdoalah dengan kerendahan hati keberhasilan Anda.


Update soal Tuhan vending machine:

Doa-doa pamrih duniawi itu adalah koin recehan yang kita masukkan ke dalam vending machine lalu berharap keluar apa yang kita “beli”.

Kita “beli” Tuhan lewat doa-doa pamrih duniawi.

Lalu ketika pamrih duniawi kita tidak terwujud, kita ngambek, mutung.

“Hei, Vending Machine bernama Tuhan, kenapa koq macet?”

Itu karena sebenarnya kita sedang berdoa kepada Tuhan palsu, Tuhan dalam asumsi, bukan Tuhan yang sebenarnya.

Tuhan yang sebenarnya menguji kita dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan imbalan duniawi yang kita harapkan.

Tuhan yang sebenarnya melatih dan menempa jiwa kita untuk layak memperoleh ampunanNya.

Tuhan yang sebenarnya menguji manusia beriman sedemikian rupa, digoncang dengan malapetaka dan kesengsaraan, sampai mereka hampir putus asa hingga bertanya “Kapan pertolongan Allah datang?” yang jawabannya adalah: “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

Beda ‘kan?

Tuhan vending machine pasif dan hanya jadi objek.

Tuhan sebenarnya adalah pihak yang in full control, adalah subjek utama semua peristiwa kehidupan, bukan hanya “pelengkap penderitaan kita”.

Kalau keinginan kita tidak dikabulkan, ya introspeksi.

Jangan berubah sikap jadi agresi.


Update soal repetisi “ibadah”:

Repetisi “ibadah” tanpa pemahaman sama sekali tidak bermanfaat, hanya buang-buang waktu.

Sekali pun repetisi itu “ditujukan semata karena Allah”, karena Allah sendiri tidak meminta kita melakukan hal-hal itu.

Seandainya repetisi tanpa pemahaman adalah sebuah kebajikan, maka mp3 player adalah makhluk yang paling banyak masuk surga.

Qur’an itu buku petunjuk. Tanpa akal, penafsiran dan pemahaman, fungsi petunjuk itu jadi hilang.

Repetisi tanpa pemahaman adalah sebuah sikap mengabaikan Qur’an sebagai PETUNJUK TUHAN.

Sebagai pedoman hidup, Qur’an itu lebih banyak diabaikan, termasuk – atau tepatnya: terutama – oleh mereka yang mengaku sebagai “ummat Nabi Muhammad”.

Paragraf di atas bukan klaim saya, tapi kabar Tuhan dalam Qur’an sendiri:

Surah Al-Furqan [25:30]: Dan Rasul berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.”

Dan saya bersaksi, bahwa pernyataan Rasul nanti di akhir zaman itu sungguh benar adanya. Termasuk saya sendiri, selama puluhan tahun hidup dalam ignorance terhadap ajaran sejati Qur’an, karena merasa cukup dengan menjalankan “5 rukun Islam dan 6 rukun iman”. I couldn’t have been more wrong than that.

Sebagian Anda akan membantah: “Saya sering baca Qur’an, setiap Ramadhan khatam, kadang lebih dari sekali, saya ikut “setor” OWOJ (one week one juz) di pengajian, belajar tajwid, bisa membaca ayat-ayat Qur’an dengan suara indah.”

That, my friend, is precisely being ignorant about Qur’an, kalau Anda baca tidak dalam kerangka memahami maknanya dan melaksanakan ajarannya. Anda – seperti saya dulu – salah fokus. Dan saya bersaksi bahwa di lingkungan sekitar (rumah, sekolah, kuliah, kantor), di sepanjang hidup saya, sebagian besar mereka yang mengaku beriman pada Qur’an, memperlakukan Qur’an sebatas itu saja, mulai dari anak TK hingga kakek-nenek.

Kebanyakan kita ini tidak sadar, bahwa buku yang sedang kita pegang itu menyimpan pesan petunjuk keselamatan maha dahsyat dari Tuhan Pencipta Segala.

Seperti seseorang yang diberi buku petunjuk arah menuju harta karun, tapi alih-alih dipelajari untuk dipahami dan diikuti, buku petunjuk itu hanya dihapalkan dan dinyanyikan seindah-indahnya saja, sambil bermimpi bahwa yang dinyanyikan itu akan mengantarkannya pada lokasi harta karun. Ketika buku petunjuk meminta kita belok KANAN, kita hanya menyanyi “♪ BELLOOKK ♪♪ ♫♫ KANNAANN ♫♫” dengan pengucapan panjang-pendek tebal-tipis setepat-tepatnya, nada semerdu-merdunya, cengkok seindah-indahnya, penuh kesyahduan, kadang sambil berlinangan air mata, sambil kaki kita melangkah ke KIRI mengikuti buku petunjuk lain yang menuntun ke jurang. Dan perilaku itu kita ulangi ratusan hingga ribuan kali di sepanjang hidup kita. Kita anggap repetisi ritual membaca buku dengan cara itu sesering-seringnya dan sebanyak-banyaknya akan membawa kita ke arah harta karun.

Tampak bodoh, bukan? Iya, tampak bodoh, karena perilaku seperti itu memang bodoh – bahasa Arab: jahil / jahiliyah – dan ternyata kualitas itu tidak hanya “dimonopoli” oleh kaum Quraisy 14 abad lalu.

Mudah-mudahan Anda tidak “terpelatuk” dengan paragraf di atas. Saya sendiri termasuk pelaku kebodohan di atas – dulu.

Itulah yang pada hakikatnya dilakukan oleh para Muslim yang mengaku beriman kepada Qur’an tapi mengabaikannya dan malah mengikuti hadits-hadits.

Contoh? Banyak, tapi contoh 2 saja yang fatal:

Tetapi sekarang saya paham kenapa banyak orang ditakut-takuti belajar makna Qur’an secara mandiri: Karena kalau banyak orang belajar makna Qur’an mandiri secara sungguh-sungguh, maka banyak orang akan temukan sendiri begitu besarnya pertentangan ajaran Qur’an dengan ajaran hadits-hadits yang katanya “melengkapi dan menjelaskan Qur’an”, ketika sebenarnya hanya “mengaburkan dan meragukan Qur’an“.

Jawaban Ferli Deni Iskandar untuk Apa kesalahpahaman mendasar mayoritas umat muslim terhadap esensi – esensi yang terkandung dalam kitab suci Al-Quran?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.