Bagaimana kedahsyatan sholawat yang pernah kamu rasakan?

https://id.quora.com/Bagaimana-kedahsyatan-sholawat-yang-pernah-kamu-rasakan?top_ans=228434839

Saya bukan hanya pernah, tapi juga masih, sedang dan mungkin akan (semoga tidak) tetap merasakan kedahsyatan dari kebodohan dan kemusyrikan dalam praktek “sholawat” atau “shalawat” yang umumnya dilakukan banyak orang.

Kebodohan, karena banyak orang tidak tahu atau paham bahwa yang dimaksud dengan “shalawat” adalah kata-kata dalam Qur’an dengan redaksi “yushalluna” atau “shalla” dan berbagai variannya, yang merupakan versi kata kerja untuk “shalat”. Dan kebodohan itu membuat orang tergelincir pada perilaku syirik, dosa besar yang menyebabkan seseorang masuk neraka.

Kemusyrikan, karena perilaku “shalawat” dalam arti mengucapkan salam, atau berdo’a kepada manusia yang sudah wafat, manusia yang tidak lagi hidup, tidak lagi bisa menjawab apalagi memberikan petunjuk, sekalipun itu Nabi Muhammad yang kita cintai, adalah perilaku membuat sekutu di sisi Allah, alias perilaku syirik.

Bisa dibuktikan bahwa pemaknaan “shalawat” yang biasa ditemukan di masyarakat adalah yang seperti ini (dari Bacaan Sholawat Nabi Muhammad SAW, Lengkap dengan Arti dan Keutamaannya – Tribunnews.com):

Semua orang khususnya Muslim pasti ingin mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW dan salah satu caranya adalah dengan bersholawat sebagaimana hadist Nabi SAW.

Barangsiapa yang bersholawat kepadaku di pagi hari 10 kali dan di sore hari 10 kali, maka dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. at-Tabrani).

Shalawat biasa diucapkan untuk memperoleh syafaat dari Nabi, padahal dalam Qur’an tidak ada satu manusia pun yang bisa memberikan syafaat, hanya Allah yang bisa memberikan syafaat.

Jalinan praktik “shalawat” dengan kepercayaan bahwa “Nabi adalah pemberi syafaat“, adalah bukti kemusyrikan yang terkandung dalam konsep “shalawat” yang umum dipraktekkan masyarakat.

Kalau Anda sungguh-sungguh mencintai Nabi Muhammad, Rasulullah kita yang mulia, maka berhentilah memuja dan mengagungkan Beliau sedemikian rupa sehingga menjadikan Beliau sebagai sekutu Allah.

Segeralah bertaubat kepada Allah karena dosa besar mempersekutukan Allah dengan Nabi.

Surah Al-Ahzab [33:56] sama sekali bukan perintah untuk “bershalawat” dalam arti mengirim salam, meminta berkah, mendo’akan Nabi Muhammad, atau meminta keselamatan dari Nabi Muhammad, yang mana jelas-jelas bahwa saat ini Nabi sudah wafat, alias tidak hidup, sehingga mustahil bisa mendengar, menjawab, apalagi memenuhi do’a yang ditujukan kepada Beliau.

Beliau itu BUKAN TUHAN, dan perilaku yang mengasumsikan sifat ketuhanan Beliau adalah sungguh perilaku syirik, dosa besar yang menjamin seseorang masuk neraka. Beliau saat ini sedang Rest in Peace, dalam masa penantian untuk dibangkitkan kembali di Hari Kiamat / Hari Kebangkitan, bersama seluruh manusia lain.

Jawaban Ferli Deni Iskandar untuk Bagaimana cara mencintai Rosulullah Muhammad SAW?

Pemujaan dan pengagungan atas Beliau bukanlah sesuatu yang Beliau minta dari kita, Surah Ali ‘Imran [3:79]. Beliau mengajari kita untuk mengabdi hanya pada Allah, tidak kepada Beliau, seperti ditegaskan Surah Al-Fatihah [1:5].

Surah Al-Fatihah [1:5]: Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.

Surah Ali ‘Imran [3:79]: Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tapi, “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”

Memuja dan mengagungkan Beliau menunjukkan kita tidak paham Qur’an karena mengabaikan pesan-pesan Qur’an, Surah Al-Furqan [25:30]

Surah Al-Furqan [25:30]: Dan Rasul berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.”

Daripada mengabaikan Qur’an, mari kita teliti ayat Qur’an yang sering dijadikan dalil untuk melakukan “shalawat”.

Surah Al-Ahzab [33:56]

LHO, TERNYATA TIDAK ADA KATA ASLI SHALAWAT DALAM AYAT DI ATAS, yang ada hanya kata “yushalluuna” dan “shallu” yang keduanya diterjemahkan menjadi “shalawat”.

Jadi kata “yushalluna” adalah kata kerja pihak ketiga berbentuk jamak, karena pelakunya juga jamak, yaitu “mereka”, yang dalam konteks ayat ini adalah Allah dan para malaikatNya.

Kata “shallu” juga mirip, adalah kata kerja pihak kedua berbentuk jamak, karena pelakunya juga jamak, yaitu “kalian”, yang dalam konteks ayat ini adalah orang-orang beriman.

Jadi, “yushalluna” dan “shallu” sebenarnya bermakna sama, hanya bentuknya saja yang berbeda, karena “yushalluna” bersubjek “pihak ketiga jamak = mereka” (Allah dan para malaikatNya), sementara “shallu” bersubjek “pihak kedua jamak = kalian” (orang-orang beriman).

Mari kita cari, apa makna kata-kata sejenis (memiliki akar kata yang sama) dengan “yushalluna” dan “shallu” dalam ayat-ayat lain. Lihat The Quranic Arabic Corpus.

Berdasarkan cek silang seluruh kemunculan kata-kata terkait, kita temukan bahwa:

  • Akar kata “yushalluna” dan “shallu” adalah tiga huruf ṣād lām wāw (ص ل و)
  • Ada 99 varian kata yang berasal dari akar kata dengan makna inti yang sama tersebut
  • Dari 99 kata tersebut, 12 di antaranya berbentuk kata kerja “shalla” yang mana “yushalluna” dan “shallu” termasuk di dalamnya

Mari kita selidiki ayat-ayat terkait Surah Al-Ahzab [33:56] di atas, yakni:

  1. Surah Ali ‘Imran [3:39] yang mengandung kata “yushalli”
  2. Surah An-Nisa [4:102] yang mengandung kata “yushallu” dan “falyushallu”
  3. Surah At-Tawbah [9:84] yang mengandung kata “tushalli”
  4. Surah At-Tawbah [9:103] yang mengandung kata “washalli”
  5. Surah Al-Ahzab [33:43] yang mengandung kata “yushalli”
  6. Surah Al-Qiyamah [75:31] yang mengandung kata “shalla”
  7. Surah Al-A’la [87:15] yang mengandung kata “fashalla”
  8. Surah Al-‘Alaq [96:10] yang mengandung kata “shalla”
  9. dan Surah Al-Kawthar [108:2] yang mengandung kata “fashalli”.

Anda (sedang dan akan) lihat, bahwa konsep inti, general sense, atau pemaknaan umum atas kata “yusholluna” dan “shollu” dalam Surah Al-Ahzab [33:56] berdasarkan akar katanya, adalah “shalla” atau “shalat”.

Berikut bukti-buktinya.

Terjemahan resmi Bahasa Indonesia dari beberapa ayat di atas tidak konsisten terhadap makna inti kata “shalat”. Ada yang jadi “berdoa” dalam Surah At-Tawbah [9:103], “memberi rahmat” di Surah Al-Ahzab [33:43], dan “bershalawat” di Surah Al-Ahzab [33:56].

Kalau kita terjemahkan secara konsisten ketiga terjemahan bermasalah tersebut dengan menyisipkan kata asli Arab-nya, yaitu “shalat”, akan kita dapati terjemahan sebagai berikut:

Surah At-Taubah 9:103: Ambillah sodaqoh dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan sholli / laksanakan shalat untuk mereka. Sesungguhnya sholaataka / shalatmu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Perhatikan bahwa terjemahan resmi atas kata “sodaqoh” dalam ayat di atas adalah “zakat”. Ini sebuah kekeliruan, karena “sodaqoh” jelas tidak sama dengan “zakat”. Terjemahan saya di atas memperbaiki sekaligus terjemahan atas kata “sodaqoh”, “sholli”, dan “shalaataka”.

Anda bisa llihat sendiri, bahwa otoritas keagamaan sebuah negara seperti Indonesia ini, dengan lembaga-lembaga besar seperti MUI, universitas-universitas ternama, doktor-doktor ilmu agama, para hafidz Qur’an, para penggiat bahasa Arab klasik, para linguist, ulama-ulama, ustdaz-ustadz, termasuk yang paling populer sekalipun, tidak bisa atau tidak mau mengoreksi kekeliruan sederhana penerjemahan dari “sodaqoh” menjadi “zakat” pada ayat ini. Dan masih banyak kekeliruan terjemahan lainnya dalam versi resmi terjemahan Qur’an. Poinnya: pendapat otoritas atau mayoritas bukan jaminan kebenaran.

Di ayat 9:103 ini, subjek / pelaku dari aktivitas “shalat” adalah Nabi, dan objek / sasaran dari aktivitas “shalat” adalah manusia-manusia yang bersedekah. Secara makna inti, bisa diringkas makna ayat tsb. adalah “Nabi bershalat untuk manusia-manusia yang bersedekah.” Aneh? Tidak. Nanti bisa dijelaskan bahwa hal ini tidak aneh, kalau kita sudah paham makna “shalat” yang benar.

Surah Al-Ahzab 33:43: Dialah yang yushalli / melaksanakan shalat kepadamu dan para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Di ayat 33:43 ini subjek / pelaku dari aktivitas “shalat” adalah Allah, dan objek / sasaran dari aktivitas “shalat” adalah makhluk / ciptaan Allah, yaitu Nabi dan para malaikat. Secara inti, bisa diringkas makna ayat tsb. adalah “Allah bershalat untuk Nabi dan para malaikat”. Aneh? Tidak. Nanti bisa dijelaskan bahwa hal ini tidak aneh, kalau kita sudah paham makna “shalat” yang benar.

Surah Al-Ahza 33:56: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya yushalluna = melaksanakan shalat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, shallu = laksanakan shalat untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan.

Di segmen pertama ayat 33:56 ini, ini subjek / pelaku dari aktivitas “shalat” adalah Allah dan para malaikat-Nya, dan objek / sasaran dari aktivitas “shalat” adalah Nabi. Di segmen kedua ayat 33:56 ini, subjek / pelaku dari aktivitas “shalat” adalah orang-orang beriman, dan objek / sasaran dari aktivitas “shalat” adalah Nabi. Secara inti, bisa diringkas makna ayat tsb. bahwa “Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalat untuk Nabi”, dan “Orang-orang beriman harus melaksanakan shalat untuk Nabi”. Aneh? Tidak. Nanti bisa dijelaskan bahwa hal ini tidak aneh, kalau kita sudah paham makna “shalat” yang benar.

JADI, APA MAKNA KATA “SHALAT” YANG BENAR? (1 dari 4)
KEMUSKILAN MAKNA TRADISIONAL

Makna kata yang benar atas kata “shalat” berbeda dari pengertian tradisional. Pengertian tradisional atas kata “shalat” itu keliru karena pemaknaannya tidak konsisten. Bila kita temukan makna “shalat” yang benar, kebenarannya bisa ditunjukkan dalam bentuk konsistensi pemaknaannya di seluruh kemunculan kata tersebut dalam Qur’an, dan dalam kemasukakalan pemaknaan tersebut.

Kalau kita pahami “shalat” sebagai “ibadah / berdo’a / pengabdian dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu”, maka kita temukan kesalahan definisi tsb. ketika diterapkan untuk ayat-ayat berikut:

  • Implikasi definisi tradisional atas “shalat” untuk Surah At-Taubah 9:103 adalah seolah Nabi berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada orang-orang yang bersedekah. Mustahil Nabi berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada manusia lain, karena tema utama ajaran Nabi adalah bertuhan pada Allah semata, tauhid tanpa kompromi.
  • Implikasi definisi tradisional atas “shalat” untuk Surah Al-Ahzab 33:43 adalah seolah Allah berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada Nabi dan malaikat-malaikatNya. Mustahil Allah berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada makhluk-makhlukNya. Itu sih sudah jelas, bukan?
  • Implikasi definisi tradisional atas “shalat” untuk Surah Al-Ahzab 33:56 adalah seolah Allah dan malaikat-malaikatNya berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada Nabi, dan seolah orang-orang beriman diwajibkan berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada Nabi. Mustahil Allah berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada Nabi. Itu sudah jelas, bukan? Seharusnya juga mustahil bagi mayoritas “muslim” untuk berdo’a / beribadah / mengabdi dengan tatacara gerakan dan ucapan tertentu kepada Nabi lewat ucapan “shalawat”. Tetapi karena mereka tidak menyadari betapa “error”-nya penafsiran soal “shalawat” ini, mereka tergelincir melakukan hal yang sebenarnya merupakan perilaku syirik tersebut.

JADI, APA MAKNA KATA “SHALAT” YANG BENAR? (2 dari 4)
PETUNJUK DARI KATA
“SHABR”

Kita seksamai ayat ini, Surah Al-Baqarah [2:153]:

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

Kita perhatikan:

  1. Kata “sabar” disandingkan dengan kata “shalat”, artinya kedua kata tersebut berjenis sama. “Sabar” berjenis kata benda abstrak, seperti halnya kata-kata “cinta”, “harapan”, “seni”, “keindahan”, dan sebagainya. Kita bisa asumsikan saat ini, bahwa kata “shalat” juga berjenis kata benda abstrak.
  2. Kata “sabar” malah disebut dua kali, diberikan penekanan pentingnya kualitas “sabar”, lewat pernyataan “Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar”. Sepertinya kualitas “sabar” dalam ayat ini terindikasi bernilai lebih tinggi bagi Allah dibandingkan kualitas “shalat”.
  3. Tidak ada “tatacara sabar” baik dalam Qur’an maupun hadits-hadits setelah Qur’an. Kita tidak butuh “tatacara sabar” karena kata “sabar” berjenis kata benda abstrak. Implementasi atau pelaksanaan “sabar” sangat tergantung konteks. Ada spektrum luas tindakan kongkrit (versus abstrak) yang menggambarkan perilaku “sabar”, seperti halnya ada spektrum luas wujud kongkrit (versus abstrak) yang menggambarkan “cinta”, “harapan”, “seni”, “keindahan”. Di satu konteks / situasi, “sabar” bisa berarti diam, menahan marah, tidak terpancing emosi. Di konteks / situasi lain, “sabar” justru bisa berarti gigih / aktif / ofensif melakukan perlawanan atas ketidakadilan. Kita tahu kapan kita sabar, dan kapan ketika tidak sabar, tanpa butuh “tatacara”-nya, seperti halnya kita tahu dan bisa melakukan atau merasakan “cinta”, “harapan”, “seni”, “keindahan” tanpa butuh deskripsi spesifik atau tatacaranya.
  4. Tidak ada “tatacara shalat” dalam Qur’an, walau ada dalam hadits-hadits setelah Qur’an. Tetapi definisi shalat dalam hadits-hadits setelah Qur’an sebagai serangkaian gerak dan ucapan, adalah penyempitan sangat jauh atas makna sesungguhnya dari kata “shalat” dalam Qur’an. Kita sebenarnya tidak butuh “tatacara shalat” karena kata “shalat”, sebagaimana kata “sabar” adalah berjenis kata benda abstrak. Implementasi atau pelaksanaan “shalat” sangat tergantung konteks. Ada spektrum luas tindakan kongkrit (versus abstrak) yang menggambarkan perilaku “shalat”, seperti halnya ada spektrum luas wujud kongkrit (versus abstrak) yang menggambarkan “cinta”, “harapan”, “seni”, “keindahan”. Kita tahu kapan kita melaksanakan shalat, dan kapan ketika tidak melaksanakan shalat, tanpa butuh “tatacara”-nya, seperti halnya kita tahu dan bisa melakukan atau merasakan “cinta”, “harapan”, “seni”, “keindahan” tanpa butuh deskripsi spesifik atau tatacaranya. Kita akan lihat dalam penjelasan berikutnya bagaimana kontekstualitas kata “shalat” (“yushalluna” dan “shallu”) berlaku dalam ayat 33:56.
  5. Kita sering mendengar ungkapan “Shalat adalah kewajiban” – biasanya dalam pemahaman “Shalat ritual dalam bentuk serangkaian gerakan dan ucapan tertentu adalah salah satu kewajiban”. Tetapi bagaimana bila ternyata “shalat adalah kewajiban” itu harfiah atau literal, yaitu “shalat = kewajiban”, atau “shalat bermakna ekivalen dengan kewajiban”, atau “shalat bermakna identik dengan kewajiban”? Maksudnya, “shalat” bermakna persis / harfiah / literal / ekivalen / identik dengan konsep “kewajiban”, atau “tugas”, atau “tanggung jawab”?
  6. “Shalat” dalam arti harfiah / literal / ekivalensi / identik dengan “kewajiban” atau “tugas” atau “tanggung jawab” merupakan kata benda abstrak, persis sama dengan kata “sabar”. Kita bisa tunjukkan bahwa pemaknaan ini benar karena bisa menjelaskan ketidakmasukakalan pengertian tradisional atas kata “shalat” dalam ayat-ayat 9:103, 33:43 dan 33:56 tadi.

JADI, APA MAKNA KATA “SHALAT” YANG BENAR? (3 dari 4)
SHALAT = KEWAJIBAN / TUGAS / TANGGUNG JAWAB

Surah At-Taubah 9:103: Ambillah sodaqoh dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan sholli / laksanakan kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk mereka. Sesungguhnya sholaataka / kewajibanmu / tugasmu / tanggung jawabmu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Di ayat 9:103 ini, subjek / pelaku dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah Nabi, dan objek / sasaran dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah manusia-manusia yang bersedekah. Secara makna inti, bisa diringkas makna ayat tsb. adalah “Nabi melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk manusia-manusia yang bersedekah”. Kewajiban / tugas / tanggung jawab Nabi terhadap manusia-manusia yang bersedekah adalah menjaga amanah atas sedekah yang mereka berikan. Tidak aneh, bukan?

Surah Al-Ahzab 33:43: Dialah yang yushalli / melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab kepadamu dan para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Di ayat 33:43 ini subjek/pelaku dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah Allah, dan objek/sasaran dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah makhluk/ciptaan Allah, yaitu Nabi dan para malaikat-Nya. Secara inti, bisa diringkas makna ayat tsb. adalah “Allah melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk Nabi dan para malaikat-Nya”. Shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab Allah terhadap Nabi dan para malaikat-Nya adalah memfasilitasi, melindungi, mendukung, menerangi jalan buat Nabi dan para malaikat tsb. Tidak aneh, bukan?

Surah Al-Ahzab [33:56]: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya yushalluna = melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, shallu = laksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan.

Di segmen pertama Surah Al-Ahzab [33:56] ini, ini subjek / pelaku dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah Allah dan para malaikat-Nya, dan objek / sasaran dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah Nabi. Di segmen kedua Surah Al-Ahzab [33:56] ini, subjek / pelaku dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah orang-orang beriman, dan objek / sasaran dari aktivitas “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah Nabi. Secara inti, bisa diringkas makna ayat tsb. adalah “Allah dan malaikat-malaikat-Nya melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk Nabi”, dan “Orang-orang beriman harus melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk Nabi”. Shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab Allah dan para malaikat-Nya terhadap Nabi adalah membuat dan mengawasi aturan untuk menjaga harkat dan martabat rumah tangga Nabi, sebagaimana tercermin dalam ayat-ayat 33:53 hingga 33:57, Surah Al-Ahzab [33:53-57]. Shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab orang-orang beriman terhadap Nabi adalah mematuhi aturan-aturan Allah tentang menjaga harkat dan martabat rumah tangga Nabi. Tidak aneh, bukan?

Bila kita seksamai lagi Surah Al-Ahzab [33:53-57], menjadi jelas bahwa itu adalah aturan / norma / protokol bagi orang-orang beriman di sekitar Nabi selama masa hidup Nabi supaya harkat, martabat, kewibawaan rumah tangga Nabi terjaga, lewat protokol bertamu ke rumah Nabi, protokol bercakap dengan Nabi, protokol berbicara dengan istri-istri Nabi, protokol menyapa ketika bertemu Nabi, dan protokol atau tepatnya larangan menikahi istri-istri Nabi sepeninggal Beliau. Ayat Surah Al-Ahzab [33:57] adalah ancaman serius bagi mereka yang tidak mengindahkan aturan-aturan berinteraksi dengan Nabi sekeluarga.

Di Surah Al-Ahzab [33:53-57] itu, Allah dan para malaikat-Nya bershalat = “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab mereka” atas Nabi berupa pembuatan dan pengawasan aturan / protokol tersebut. Dan orang-orang beriman diharuskan bershalat = “melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” untuk mematuhi aturan / protokol tersebut.

Surah Al-Ahzab [33:56] sama sekali bukan perintah untuk “bershalawat” dalam arti mengirim salam, meminta berkah, mendo’akan Nabi Muhammad, atau meminta keselamatan dari Nabi Muhammad, yang mana jelas-jelas bahwa saat ini Nabi sudah wafat, alias tidak hidup, sehingga mustahil bisa mendengar, menjawab, apalagi memenuhi do’a yang ditujukan kepada Beliau.

Beliau itu BUKAN TUHAN, dan perilaku yang mengasumsikan sifat ketuhanan Beliau adalah sungguh perilaku syirik, dosa besar yang menjamin seseorang masuk neraka. Beliau saat ini sedang Rest in Peace, dalam masa penantian untuk dibangkitkan kembali di Hari Kiamat / Hari Kebangkitan, bersama seluruh manusia lain.

JADI, APA MAKNA KATA “SHALAT” YANG BENAR? (4 dari 4)
KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. “Shalat” dalam bentuk kata kerja bermakna sama secara harfiah atau literal dengan kata atau konsep “melaksanakan kewajiban”, atau “melaksanakan tugas”, atau “melaksanakan tanggung jawab”.

    “Shalat” adalah sebuah kata benda abstrak. Bentuk kongkrit dari pelaksanaan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab dalam Qur’an tergantung konteksnya.

    Terjemahan yang lebih tepat atas Surah Al-Ahzab [33:56] yang disalahpahami sebagai perintah “bershalawat”, adalah:

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya yushalluna / melaksanakan shalat / melaksanakan kewajiban / melaksanakan tugas / melaksanakan tanggung jawab untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman, shalli / laksanakan shalat / laksanakan kewajiban / laksanakan tugas / laksanakan tanggung jawab untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan.”

    Shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab dalam konteks di Surah Al-Ahzab [33:53-57] adalah tentang tanggung jawab Allah dan malaikatNya dalam pembuatan dan pengawasan aturan / protokol yang berfungsi menjaga harkat dan martabat rumah tangga Nabi, dan tentang kewajiban orang-orang beriman di sekitar Nabi dalam pelaksanaan / kepatuhan atas aturan / protokol yang berfungsi menjaga harkat dan martabat rumah tangga Nabi tsb, selama masa hidup Nabi.

    Setelah Nabi wafat, kewajiban kita menghormati Nabi dilakukan dengan membaca, memahami, memikirkan, dan melaksanakan ajaran dari satu-satunya peninggalan Nabi yang otentik dan orisinil (bukan karya palsu seperti hadits-hadits tulisan para imam Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat), yaitu Qur’an.

  2. “Shalat” dalam bentuk kata benda bermakna sama secara harfiah atau literal dengan kata atau konsep “kewajiban” atau “tugas” atau “tanggung jawab”.

    “Shalat” adalah sebuah kata benda abstrak. Bentuk kongkrit dari shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab dalam Qur’an tergantung konteksnya.

    Pelaku shalat / kewajiban / tugas/ tanggung jawab tidak hanya manusia kepada Tuhan, tapi juga dari Tuhan kepada manusia dan malaikat, dari malaikat kepada Nabi dan orang-orang beriman, dari orang-orang beriman kepada Tuhan, dari orang-orang beriman kepada Nabi, dan dari orang-orang beriman kepada sesama manusia.

    Dalam istilah lebih modern, shalat lebih cocok dengan apa yang dimaksud sebagai tanggung jawab atau responsibilities. Shalat / tanggung jawab / responsibilities adalah hal-hal yang membuat hidup kita bermakna / meaningful. Ada sense of mission dalam shalat / tanggung jawab / responsibilities.

    Shalat y
    ang dimaksud Qur’an memiliki dampak besar terhadap kemajuan peradaban. Shalat versi hadits-hadits setelah Qur’an tulisan para imam Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat memiliki dampak besar terhadap pengkerdilan pesan Qur’an dan pengkerdilan jiwa manusia, terbukti dari mandeknya peradaban kaum “muslim” selama berabad-abad, karena kaum “muslim” sudah kehilangan sense of life mission yang dimaksudkan Tuhan dalam konsep shalat.

    Sense of life mission
    yang dimaksudkan Qur’an dengan shalat sudah berhasil “dibonsai” menjadi ritual gimnastik lima kali sehari, dan konsep kerdil itu dibela secara militan, mati-matian, dimonopoli oleh para pengiman hadits imam-imam Persia sebagai satu-satunya implementasi yang benar atas konsep shalat, dan menggelari mereka yang belajar makna Qur’an sungguh-sungguh hingga menemukan penyimpangan ajaran hadits-hadits para imam Persia, sebagai “kaum ingkar sunnah yang sesat”.
    Mereka perlu segera mencari cermin.
    NGACA!

  3. Bisa ditunjukkan bahwa pemaknaan seperti itu menjelaskan maksud sesungguhnya dari ayat-ayat “problematik” Surah At-Tawbah [9:103], Surah Al-Ahzab [33:43] dan Surah Al-Ahzab [33:56], yang ketika kata kuncinya dipegang maknanya secara konsisten sebagai “shalat”, menjadi tidak masuk akal ketika dimaknai secara tradisional.
  4. Pemaknaan “shalat” yang benar sanggup menjelaskan problematika pernyataan vs kenyataan dalam Surah Al-‘Ankabut [29:45]:

    “Bacalah Kitab yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab. Sesungguhnya shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab itu mencegah kekejian dan kemungkaran. …”

    Dalam ayat ini, konteks “shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab” adalah seluruh ajaran yang ada dalam Kitab yang kita baca, yaitu Qur’an.

    Pengertian “shalat versi hadits setelah Qur’an yang ditulis para imam Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat” yang sangat sempit membuat kita terdorong untuk meragukan kebenaran pernyataan ayat di atas, karena banyak pelaku “shalat versi hadits” itu ternyata tidak tercegah dari perilaku keji dan mungkar seperti korupsi, kejahatan, dan berzina.

    Pengertian “shalat versi Qur’an” yang sangat luas sebagai konsep abstrak “kewajiban / tugas / tanggung jawab” bisa menjelaskan bahwa para koruptor, kriminal, dan pezina itu bukanlah pelaku shalat, karena mereka tidak melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab yang ada dalam ajaran Qur’an, yaitu untuk menjaga amanah, untuk menghormati hak-hak orang lain, untuk menjaga kesucian diri mereka sendiri. Ini konsisten dengan pengertian dan penjabaran shalat yang ada dalam ayat-ayat Surah Al-Ma’arij [70:22-35]

  5. Surah Al-Baqarah [2:3]:

    “Mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

    Ayat ini adalah ayat yang menyebutkan kata “shalat” untuk pertama kalinya dalam Qur’an.

    “Shalat” di situ mengacu pada kewajiban / tugas / tanggung jawab untuk memenuhi sumpah / perjanjian / kontrak antara kita dengan Tuhan pada surah sebelumnya yaitu Surah Al-Fatihah [1], khususnya bagian untuk manusia pada Surah Al-Fatihah [1:5].

    Inisiasi seseorang untuk menjadi muslim – seseorang yang berserah diri hanya pada Tuhan – adalah Surah Al-Fatihah [1]. Itulah yang diwajibkan oleh Nabi dibacakan seseorang ketika menginisiasi orang tersebut untuk menjadi orang beriman – bukan “dua kalimat syahadat” sebagaimana versi hadits-hadits setelah Qur’an.

    Shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab utama kita sebagai muslim – seseorang yang berserah diri pada Tuhan – adalah memenuhi kontrak / perjanjian kita dengan Tuhan dalam Surah Al-Fatihah [1], yang intinya terdapat pada Surah Al-Fatihah [1:5].

    Alasan untuk mengapa Surah Al-Fatihah adalah sebuah kontrak / perjanjian / sumpah bisa dilihat di Jawaban Ferli Deni Iskandar untuk Mengapa kata tunjuk ذلك (dzaalika) pada surah al-baqarah ayat 2 diterjemahkan menjadi ‘ini’ bukan ‘itu’? Berikan alasan ilmiah beserta referensi, ringkasnya sbb.:

    Dzaalika” pada Surah Al-Baqarah [2:2] mengacu pada yang baru lewat, yaitu Surah Al-Baqarah [2:1], sebuah simbol berbunyi “Alif-Lam-Miim“.

    1. Alif-Lam-Miim adalah simbol untuk Surah Al-Fatihah
    2. Dengan demikian “Dzaalika” mengacu pada Surah Al-Fatihah
    3. Surah Al-Fatihah adalah sebentuk kontrak atau perjanjian antara kita dengan Tuhan
    4. Struktur Surah Al-Fatihah, bisa ditunjukkan sebagai berikut:
      1. Bagian pertama, bagian “Alif“, adalah Surah Al-Fatihah [1:1-4] yang merupakan pernyataan kredensial pihak-pihak yang berkontrak, yaitu Tuhan dan hambaNya, manusia.
      2. Bagian kedua, bagian “Lam“, adalah Surah Al-Fatihah [1:5] yang merupakan inti kontrak atau perjanjian, bagian kewajiban / tugas / tanggung jawab / shalat yang dilakukan oleh manusia, yaitu bahwa manusia mengabdi hanya pada Tuhan, dan meminta tolong hanya pada Tuhan.
      3. Bagian ketiga, bagian “Miim“, adalah Surah Al-Fatihah [1:6-7] yang merupakan pernyataan konsekuensi dari pemenuhan perjanjian, bagian kewajiban tugas / tanggung jawab / shalat yang dilakukan oleh Tuhan, yaitu jalan lurus bagi yang memenuhi janji, dan kesesatan & kemurkaan bagi yang melanggar janji.
    5. Bila kita terjemahkan Surah Al-Baqarah [2:2] dalam pengertian ini, kita bisa jadikan satu kalimat sebagai berikut:

      Surah Al-Fatihah itu sumpah / kontrak / perjanjian yang tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

      Ayat tersebut menegaskan pentingnya Surah Al-Fatihah, bukan sekedar “pembuka” Qur’an, tapi sesungguhnya adalah sumpah, janji, kewajiban utama dari seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu berserah diri total hanya padaNya – makna inti dari kata “muslim” atau “islam”.

  6. Pemaknaan “shalat” yang benar sanggup menjelaskan tafsiran atas kata “shalawatun” dalam Surah Al-Baqarah [2:157], lihat The Quranic Arabic Corpus, yang seharusnya diterjemahkan menjadi:

    “Untuk mereka ada shalawatun / berbagai shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab dari Allah, dan merekalah yang memperoleh petunjuk“.

    Pemaknaan tradisional menerjemahkan “shalawatun” secara tidak konsisten menjadi “ampunan dan rahmat” ketika jelas “shalawatun” adalah bentuk jamak untuk turunan atau varian dari kata “shalat”.

    Tetapi apa yang dimaksud dengan “shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab dari Allah?

    “Shalawatun” dalam Surah Al-Baqarah [2:157] adalah berbagai tanggung jawab Allah untuk memenuhi kontrak / perjanjian antara kita dengan Allah dalam Surah Al-Fatihah [1], khususnya bagian tanggung jawab Allah pada Surah Al-Fatihah [1:6-7], yaitu memberikan petunjuk jalan lurus dan menghindarkan dari jalan sesat yang dimurkai, kepada manusia yang bersetia pada sumpah di Surah Al-Fatihah [1:5].

    Ya, Allah pun melakukan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab terhadap hamba-hamba-Nya, yaitu terhadap hamba-hamba yang setia pada sumpah / kontrak / perjanjian antara kita dengan Allah:

    Hanya pada Engkau kami mengabdi, hanya pada Engkau kami mohon pertolongan” – Surah Al-Fatihah [1:5]

    Yaitu shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab Allah untuk memberikan mereka petunjuk kepada jalan lurus, dan menghindarkan mereka dari jalan yang dimurkai dan sesat – Surah Al-Fatihah [1:5-7]seperti dikonfirmasi oleh bagian terakhir ayat Surah Al-Baqarah [2:157], yaitu “… dan merekalah yang memperoleh petunjuk“.

  7. Surah Al-Baqarah [2:43]:

    “Dan tegakkan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab, berikan zakat / kesucian, wa-ir’kaʿū / dan merendah beserta l-rākiʿīna / mereka yang merendah“.

    Zakat = kesucian.

    “Memberikan zakat” = “memberikan kesucian”; atau dalam ungkapan lebih verbose adalah “memberikan sumbangsih dengan niat tulus suci bersih tanpa pamrih pribadi”.

    Zakat bukan berarti “pajak tahunan 2,5%” sebagaimana dibelokkan oleh hadits-hadits para pemimpin Persia, tapi merupakan – kembali – konsep abstrak yang bermakna “kesucian”. Meski salah satu wujud kongkrit “memberikan kesucian” bisa jadi adalah “memberikan harta”, tapi “zakat” tidak terbatas di situ, melainkan mencakup konsep memberikan sumbangsih dalam berbagai bentuk yang mungkin (harta, jiwa, tenaga, waktu, dsb) dengan niat suci bersih secara tulus tanpa pamrih pribadi.

    Mengapa? Lihat ayat ini, Surah Maryam [19:31]:

    “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup“.

    Nabi Isa adalah seseorang yang melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab dan memberikan zakat / kesucian sepanjang hidupnya, dari lahir hingga wafat.

    Seandainya “zakat” adalah tentang memberikan pajak harta atau sejenisnya, implikasinya adalah Nabi Isa memberikan pajak harta sejak ia lahir hingga wafat. Itu mustahil. Yang benar adalah Nabi Isa “memberikan kesucian” dalam arti “memberikan sumbangsih dengan jiwa-raganya dalam niat suci secara tulus tanpa pamrih pribadi” sejak ia lahir hingga wafat.

    Ingat bahwa sejak awal kelahirannya pun Nabi Isa sudah mampu bercakap-cakap menyampaikan pesan Allah, artinya sejak lahir Nabi Isa sudah mampu melaksanakan shalat / tugas / tanggung jawabnya sebagai utusan Allah, dan sejak lahir pula ia sudah mampu memberikan zakat / sumbangsih secara tulus suci tanpa pamrih pribadi kepada orang-orang di sekitarnya.

  8. Surah Al-Baqarah [2:45]“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab. Dan itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang rendah hati.”

    Ketika kita dalam kesulitan, pertolongan akan datang bila kita dalam kerendahan hati melaksanakan tanggung jawab kita dengan sabar, tekun, gigih. Contoh:

    1. Kehilangan pekerjaan? Tolong diri Anda sendiri dengan melaksanakan tanggung jawab / shalat untuk secara gigih / sabar mencari sumber nafkah baru. Itu memang berat, maka bersikap rendah hatilah dalam prosesnya, jangan gengsi. Sekedar shalat ritual walau dengan tangisan ‘khusyuk’ tidak akan menolong Anda, sekalipun dilakukan dalam jumlah ribuan rakaat.
    2. Kecewa dalam hubungan dengan suami atau istri atau anak? Tolong diri Anda sendiri dengan melaksanakan tanggung jawab / shalat untuk secara gigih / sabar mencari penyebab masalah hubungan itu dan solusinya. Itu memang berat, maka bersikap rendah hatilah dalam prosesnya, jangan merasa lebih tinggi daripada mitra hubungan Anda itu. Sekedar shalat ritual walau dengan tangisan ‘khusyuk’ tidak akan menolong Anda, sekalipun dilakukan dalam jumlah ribuan rakaat.
    3. Terlilit hutang besar? Tolong diri Anda sendiri dengan melaksanakan tanggung jawab / shalat untuk secara gigih / sabar menghadapi penagih, berani mengakui kesalahan, berjuang melunasinya dengan berbagai cara yang mungkin dilakukan – semisal mencicil dan mencari penghasilan tambahan. Itu memang berat, maka bersikap rendah hatilah dalam prosesnya, pasrah bila Anda dimaki-maki, karena itu memang kesalahan Anda sendiri. Sekedar shalat ritual walau dengan tangisan ‘khusyuk’ tidak akan menolong Anda, sekalipun dilakukan dalam jumlah ribuan rakaat.
  9. Surah Hud [11:114]“Dan laksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab pada batas-batas siang hari dan awal malam. Perbuatan baik menghapus kesalahan….”

    Ayat tersebut bicara tentang melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab kita dalam berbagai bentuknya di sepanjang waktu kita terjaga, dan bahwa melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab itu adalah perbuatan baik yang menghapus kesalahan.

    Ini konsisten dengan pesan dalam ayat Surah Al-‘Ankabut [29:45] “… Sungguh pelaksanaan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab itu mencegah kekejian dan kemungkaran…”; yang per-se bukan bermakna shalat ritual semata karena terbukti pelaksanaan shalat ritual semata tidak mencegah kekejian dan kemungkaran.

  10. Surah Al-Isra [17:78]“Laksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab sejak matahari terbenam hingga gelap malam, dan bacaan / Qur’an pada waktu subuh. Sungguh, bacaan / Qur’an pada waktu subuh itu disaksikan.”

    Ayat tersebut bicara tentang membaca Qur’an sebagai sebuah shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab yang kita lakukan pada kondisi matahari terbenam atau situasi gelap, dengan subuh sebagai waktu istimewa untuk membaca Qur’an. Dalam kalimat asli ayat ini tidak ada redaksi tentang “shalat Subuh”, tapi “Qur’an alfajri”.

    Membaca Qur’an dengan pemahaman itu adalah sebuah kewajiban, karena dengan memahami pesan-pesan Qur’an kita akan paham seluruh kewajiban yang ada dalam ajaran Qur’an, seperti tercantum secara konsisten dalam ayat Surah Al-‘Ankabut [29:45].

  11. Surah Al-Qiyamah [75:31-32] – “Karena ia tak membenarkan dan tak melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab. Tetapi ia mendustakan dan berpaling.”

    Di sini bisa disimpulkan bahwa karena “tak membenarkan = mendustakan”, maka “tak melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab = berpaling dari shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab”.

    “Berpaling” dalam ayat di atas memiliki padanan istilah militeristik yang pas, yaitu “desersi”.

    Kalau kata “shalla” dalam ayat di atas diartikan sebagai “serangkaian gerakan dan ucapan ritualistik tertentu”, maka tidak masuk akal untuk menyimpulkan bahwa “berpaling = tak melakukan serangkaian gerakan dan ucapan ritual tertentu”.

  12. Surah Al-A’la [87:15] – “Dan ia ingat nama Tuhannya, maka ia melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab.”

    Mengingat nama Tuhan adalah aktivitas mental, bukan fisik, karenanya tidak cocok dengan pengertian “shalat versi hadits setelah Qur’an” yang memberi penekanan pada aktivitas fisik gerakan dan ucapan.

  13. Surah Al-Ma’arij [70:22]“Kecuali mereka yang melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab.”

    Surah Al-Ma’arij [70:23]“Mereka yang dāimūna / constant / terus-menerus dalam shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab mereka.”

    Perhatikan bahwa “shalat ritual” bukanlah aktivitas dāimūna / constant / terus-menerus, tapi hanya berdurasi 5–10 menit. Kembali terlihat di sini bahwa “shalat versi Qur’an” adalah aktivitas mental, bukan fisik dalam bentuk serangkaian gerakan dan ucapan ritual tertentu.

    Hanya aktivitas mental yang bisa dilakukan secara terus-menerus.

    Ayat-ayat selanjutnya menjabarkan apa saja yang tercakup dalam shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab itu, yakni:

    1. bersikap dermawan dengan menyisihkan dan memberikan harta kepada orang miskin – Surah Al-Ma’arij [70:24-25]
    2. beriman pada Hari Pembalasan – Surah Al-Ma’arij [70:26]
    3. takut terhadap Tuhan – Surah Al-Ma’arij [70:27-28]
    4. memelihara kesucian / kemurnian diri – Surah Al-Ma’arij [70:29-31]
    5. memelihara amanat dan janji – Surah Al-Ma’arij [70:32]
    6. berpegang teguh pada kesaksian – Surah Al-Ma’arij [70:33]
    7. menjaga shalat-shalat / kewajiban-kewajiban / tugas-tugas / berbagai tanggung jawabnyaSurah Al-Ma’arij [70:34] – kita bisa maknai bahwa poin ini mencakup keseluruhan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab yang ada dalam Qur’an untuk kita laksanakan.
      Ini konsisten lagi dengan pesan dalam Surah Al-‘Ankabut [29:45].
  14. Surah Al-Ma’un [107] berbicara tentang mereka yang lalai terhadap kewajiban / tugas / tanggung jawabnya, yaitu lalai untuk menyantuni anak yatim, lalai memberi makan orang miskin, mencari pujian dalam berbuat kebaikan, padahal hatinya malas membantu.
  15. Surah Maryam [19:59] – “Maka datang setelah mereka para pengganti yang mengabaikan kewajiban / tugas / tanggung jawab dan hanya mengikuti syahwat / hasrat, maka segera mereka akan sesat”.

    “Syahwat / hasrat” sebagai kontras atas “shalat” di sini adalah persoalan mental, bukan fisik gerakan atau ucapan, menunjukkan makna yang benar untuk kata “shalat” sebagai kewajiban / tugas / tanggung jawab.

    Ini juga konsisten dengan ayat lain Surah Al-Qiyamah [75:31-32] yang mengindikasikan konsep “shalat” sebagai lawan-kata dari “berpaling” atau “desersi”.

  16. Jadi, konsep dan pelaksanaan “shalat versi Qur’an” bermakna sangat luas, dan tidak hanya dilakukan oleh “muslim” (dalam arti keliru “yang mengucapkan dua kalimat syahadat”), mencakup misalnya pemahaman-pemahaman berikut:
    1. Rachel Corrie – Wikipedia adalah seseorang yang melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawabnya untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan bagi anak-anak Palestina yang ia bela. Ia sedemikian pasrah / berserahdiri / ber-“islam” pada Tuhan dalam pelaksanaan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab kemanusiaannya itu, sampai rela untuk mati.

      Dapat disimpulkan bahwa Rachel Corrie adalah seorang muslim yang menegakkan shalat – dalam pengertian ‘muslim’ dan ‘shalat’ yang sesuai dengan Qur’an.

      Rachel Corrie lebih muslim dan lebih taat shalat, daripada seorang pengucap “dua kalimat syahadat” sekalipun “rajin shalat ritual 5 kali sehari” tapi membuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan tindakan terorisme. Menurut Qur’an, para pelaku kerusakan di muka bumi adalah orang-orang kafir – lihat Surah Al-Baqarah [2:6-21]meskipun dia mengucapkan “dua kalimat syahadat” – yang jelas-jelas tidak ada perintahnya – tapi malah ada larangannya – dalam Qur’an.

    2. Seorang ayah sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran sebagai pemimpin, pemberi nafkah, pelindung istri dan anak-anaknya.
    3. Seorang ibu sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran sebagai wakil pemimpin keluarga, pemberi kehangatan kasih sayang, mendukung suaminya dan merawat anak-anaknya.
    4. Seorang karyawan atau anggota organisasi sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran profesionalnya dalam perusahaan atau organisasi tempat ia bergabung.
    5. Seorang pelajar atau mahasiswa sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran untuk pengembangan secara maksimal kapasitas dan kapabilits intelektualnya.
    6. “Shalat utama” atau kewajiban utama / tugas utama / tanggung jawab utama dari seorang “muslim” (seseorang yang berserah diri pada Tuhan, apapun agama kulturalnya), adalah menghayati dan melaksanakan sumpah pada Tuhan sebagai muslim, yang berbunyi “Hanya kepada Engkau kami mengabdi, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”. Karena dengan memenuhi sumpah tersebut, ia akan diberikan bimbingan menuju jalan lurus dan terhindar dari jalan yang dimurkai dan sesat – Surah Al-Fatihah [1:5-7].
    7. Bisa dibuktikan bahwa konsep “shalat” seperti ini cocok (fit) dalam keseluruhan – tepatnya 99 (sembilanpuluh sembilan) – kemunculan kata tersebut dalam Qur’an. Silakan Anda yang meragukan hal ini untuk menanyakan kasusnya.

Saya undang mereka yang pernah menanyakan secara khusus pada saya tentang makna “shalat” dalam Qur’an, untuk membaca penjelasan ini. Halo Mas Handeputra, Mas Wicak Anggoro, Mas Hilman Dani Triawan, Mas Zuh Karim, Mbak Ratu Naurah, Mas Rizal Muttaqin, Mas Farhan, Mas Musrian Farhan, Mas Johan Kusuma, Mbak Ci Ha, Mas Rey Rockstreet, Mas Asep Bagja Priandana, Mas Jacharia Arifien, Mas M Anggi Yoga Pratama, Mas Haris Binangkit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.