Jika menerjemahkan/menafsirkan ayat Al Quran harus melihat zaman dan kondisi saat diturunkannya ayat tersebut, lantas bagaimana dengan maksud klaimnya sebagai pedoman ‘sepanjang zaman’?

https://id.quora.com/Jika-menerjemahkan-menafsirkan-ayat-Al-Quran-harus-melihat-zaman-dan-kondisi-saat-diturunkannya-ayat-tersebut-lantas-bagaimana-dengan-maksud-klaimnya-sebagai-pedoman-sepanjang-zaman/answer/Ferli-Deni-Iskandar-1

Saya termasuk yang meragukan argumen tentang pentingnya penjelasan di luar Qur’an atas ayat yang ada di dalam Qur’an.

Setelah saya pikir sejenak, saya koreksi:

Saya termasuk yang yakin bahwa argumen tentang pentingnya penjelasan di luar Qur’an atas ayat yang ada di dalam Qur’an adalah keliru dan menyesatkan.

Update, jawaban terkait: Jawaban Ferli Deni Iskandar untuk Kitab suci agama Islam adalah Al-Quran, tetapi mengapa banyak umat muslim juga menggunakan hadits sebagai pedoman hidupnya? Apakah Al-Quran tidak cukup?

Mudah-mudahan yang membaca cukup sabar dan tidak terpancing emosi.

Istilah yang biasa digunakan untuk penjelasan di luar Qur’an itu adalah asbabun nuzul.

Dari susunan asal katanya, asbab = sebab / penyebab / alasan, dan nuzul = diturunkan. Jadi asbabun nuzul adalah kisah tentang sebab atau alasan diturunkannya sebuah ayat dalam Qur’an.

Secara akal sehat dan acuan Qur’an sendiri, kelemahan asbabun nuzul adalah:

  1. Menempatkan narasi di luar Qur’an sebagai dasar atau pembenaran suatu tafsir tertentu Qur’an, berarti menempatkan narasi buatan manusia di atas narasi buatan Tuhan. Ini merupakan sebentuk pelecehan atas Qur’an dan Tuhan.
  2. Tuhan menyatakan bahwa pesan Qur’an ditujukan bagi seluruh manusia, sebagai petunjuk bagi manusia – l-qur’ānu hudan lilnnāsi” – Surah Al-Baqarah [2:185]. Tuhan tentu yang paling tahu kemampuan intelek manusia untuk memahami petunjukNya. Menyatakan bahwa hanya manusia tertentu yang memiliki kemampuan atau kewajiban untuk memahami Qur’an, adalah sebuah pelecehan atas pengetahuan Tuhan tentang kemampuan pemahaman manusia ciptaanNya.
  3. Sumber asbabun nuzul adalah hadits-hadits yang diklaim berasal dari Nabi. Padahal hadits-hadits itu ditulis para Imam Persia sekitar dua-ratusan tahun setelah Nabi wafat, yang berarti kisah-kisah dalam hadits tersebut tidak memperoleh otorisasi dari Nabi sendiri. Ingat bahwa hadits-hadits banyak yang saling bertabrakan satu sama lain, atau bertabrakan dengan Qur’an sendiri . Jadi menyandarkan kebenaran Qur’an pada suatu konstruksi narasi yang lemah, merupakan sebentuk pelemahan tersendiri atas kebenaran Qur’an.
  4. Prinsip atau dasar asbabun nuzul bertentangan dengan ayat-ayat Qur’an yang menegaskan bahwa Qur’an itu sudah terperinci – l-kitāba mufaṣṣalan dan lengkap – “watammat kalimatu” , tak ada yang sesuatu pun yang luput / tertinggal dalam Qur’an – “mā farraṭnāl-kitābi min shayin .

Karena asbabun nuzul tidak valid, maka tidak ada bantahan tentang prinsip “Qur’an sebagai pedoman hingga Hari Kiamat”.

Penggunaan narasi buatan manusia sebagai asbabun nuzul bagi narasi buatan Tuhan (Qur’an), membuka risiko penyalahgunaan sbb.:

  1. Pengada-adaan kisah yang bertujuan memberikan alasan kepentingan pribadi penulis kisah tersebut, entah untuk tujuan atau motif politik dan ekonomi.
  2. Mempersempit pemahaman sebuah pesan Tuhan menjadi sesuatu yang spesifik diada-adakan oleh manusia tersebut.
  3. Menjadikan penghalang bagi manusia untuk mengenal Tuhan secara langsung melalui Qur’an, karena ditakut-takuti tidak boleh memahaminya tanpa lensa pemahaman yang sudah dibuat manusia lain.
  4. Membuat implementasi ajaran Qur’an stagnan, hanya jadi pemulas bibir, bukan pondasi keimanan tapi hanya sebagai wall-paper keimanan. Fenomena ini tampak dari pemujaan berlebihan mayoritas atas “cara baca Qur’an” sampai harus patuh pada panjang-pendek, tebal-tipis, kemerduan-alunannya – intinya menjadikan Qur’an sebagai “buku nyanyian” sembari mengharamkan musik karena mengikuti hadits, tapi malah mengabaikan makna ajaran dan petunjuk Tuhan yang ada dalam Qur’an tersebut.

Tulisan saya ini pun tidak penting dibandingkan apa yang kita bisa baca sendiri sebagai pesan Tuhan dalam Qur’an.

Lebih baik Anda gunakan akal pikiran Anda sendiri untuk menyelidiki, menganalisis, dan membuat kesimpulan Anda sendiri tentang Qur’an. Maksimalkan akal Anda untuk memahami Qur’an, sebagaimana diperintahkan Tuhan.

Karena yang mengajarkan Qur’an, adalah Tuhan sendiri.

“It is He Who has taught the Qur’an” – Surah Ar-Rahman [55:2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.