Kepada ex-muslim, kapankah kalian menyadari bahwa Islam bukan untuk kalian? Mengapa Anda tidak mau menganut Islam lagi?

https://id.quora.com/Kepada-ex-muslim-kapankah-kalian-menyadari-bahwa-Islam-bukan-untuk-kalian-Mengapa-Anda-tidak-mau-menganut-Islam-lagi/answer/Ferli-Deni-Iskandar-1

Saya menjawab ini karena merasa di satu sisi seorang “ex-muslim” dan di sisi lain masih seorang “muslim”.

Saya sudah menjadi “ex-muslim” dalam arti meninggalkan serangkaian dogma dan ritual yang didefinisikan oleh hadits-hadits setelah Qur’an yang ditulis oleh para pemimpin Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat, yang pada umumnya diterima secara kultural sebagai “agama Islam”.

Saya menjadi “ex-muslim” dalam pengertian di atas karena melihat bahwa “agama Islam” per definisi hadits-hadits setelah Qur’an – baik eksplisit atau implisit – hanyalah sebentuk pemujaan atas Nabi, sesuatu yang sebenarnya justru sangat tabu dalam ajaran Nabi yang ada di Qur’an.

Saya masih “muslim”, bahkan jadi semakin hard core muslim, karena saya semakin teguh percaya dan memegang Qur’an sebagai pedoman hidup yang berasal dari Tuhan pencipta alam semesta dan segala isinya. “Muslim” per definisi Qur’an adalah seseorang yang beserah diri pada Tuhan dan melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawabnya sebagai hamba yang mewakili Tuhan di muka bumi. Saya menghormati dan mencintai Nabi tidak dengan memuja-mujanya sebagai sekutu Tuhan sebagaimana implisit dalam pernyataan “dua kalimat syahadat”, tapi saya mencintai Beliau dengan sungguh-sungguh berupaya memahami dan melaksanakan ajaran peninggalan otentik Nabi, yaitu Qur’an.

Problem yang ada dalam “agama Islam”, sekarang saya bisa lihat, bersumber dari ajaran-ajaran para pemimpin Persia yang diklaim berasal dari Nabi, padahal Nabi sendiri tidak mungkin melihat, membaca, memeriksa, apalagi mengizinkan penulisan dan penerbitannya di masa ratusan tahun setelah Beliau wafat.

Dengan kata lain, ajaran para pemimpin Persia tentang Nabi itu telah membajak ajaran dari Nabi dalam Qur’an, dan sayangnya, itulah yang diikuti mayoritas “muslim”.

Misalnya, kajian tentang “shalat versi Qur’an” versus “shalat versi hadits-hadits setelah Qur’an” bisa saya ringkas sebagai berikut:

  1. Definisi shalat dalam hadits-hadits para pemimpin Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat adalah sebentuk penyempitan, pengkerdilan, pembonsaian atas konsep shalat yang benar dalam Qur’an.

    Tuhan tidak meminta kita melakukan ritual gimnastik lima kali sehari yang prakteknya mengandung unsur kemusyrikan.

    Tuhan tidak meminta kesaksian kita atas kerasulan Nabi Muhammad – itu tidak ada dalam Qur’an.

    Tuhan tidak meminta kita untuk mengangkat telunjuk dan menggerak-gerakannya dalam tahiyat shalat – itu tidak ada dalam Qur’an.

    Tuhan tidak meminta “ditengok” lima kali sehari – itu tidak ada dalam Qur’an.

    Menyatakan sebaliknya berarti membuat kebohongan atas nama Tuhan.

    Tuhan meminta kita melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab sebagai perwakilanNya di muka bumi di sepanjang waktu, yaitu menjadi “budak” Tuhan yang mengabdi dan mohon bantuan HANYA kepada Tuhan, mengikuti semua kehendakNya sebagaimana dipesankan dalam Qur’an, dan dengan demikian menjadi manusia berani dan tangguh yang menggerakkan kemajuan peradaban.

    Seorang muslim sejati tidak mengistimewakan
    dan menyandingkan nama makhluk apa pun, sekalipun Nabi Muhammad, di sisi nama Tuhan.

    Menyandingkan nama Nabi di sisi Tuhan adalah sikap syirik, yang “menjamin” seseorang masuk neraka.

    Kemusyrikan “dua kalimat syahadat” yang diucapkan dalam duduk tasyahud / tahiyat dicoba untuk disamarkan oleh para penulis hadits-hadits pencomot kredensial kerasulan Nabi dengan “teladan” mengangkat telunjuk sambil menggoyang-goyangkannya ketika mengucapkannya.

    Jelas, “teladan” seperti itu bukan berasal dari Nabi, karena tidak ada perintah konyol seperti itu dalam Qur’an.

    Gerakan mengangkat dan menggoyangkan jari telunjuk itu hanyalah distraksi yang mengalihkan seseorang dari memikirkan apa yang sedang ia ucapkan – sejenis tipuan ilusi optik seolah penegasan atas tauhid, sehingga ia semakin sulit untuk sadar dari perilaku syirik yang tengah dilakukannya.

  2. “Tatacara shalat” dalam hadits-hadits para pemimpin Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat bukanlah hal yang melengkapi, merincikan atau menjelaskan Qur’an, tapi adalah hal-hal yang membelokkan pesan-pesan Qur’an yang lebih universal dan menghalangi manusia dari menemukan jalan Tuhan yang benar.

    Sunnah Rasulullah lengkap semua ada dalam Qur’an.

    Yang mayoritas anggap secara salah-kaprah sebagai “sunnah” itu adalah hadits-hadits setelah Qur’an, yang ditulis oleh para imam Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat, yang mana Nabi tidak bisa melihat, mengkaji, apalagi mengizinkan penulisannya.

    Nabi mungkin akan terperanjat dan mengutuk para penulis hadits seandainya tahu bahwa Beliau dikabarkan oleh para imam Persia itu sebagai seorang buta huruf pelaku kejahatan kemanusiaan, karena mencongkel mata manusia, menjemur kepanasan manusia di terik matahari hingga mati kehausan, dan dikabarkan mengidap pedofilia serta begitu maniak seks sehingga suka melakukan orgi bersama 11 istrinya dalam semalam. Itulah “rincian dan penjelasan Qur’an serta sunnah Rasulullah” (kata para pengiman hadits-hadits setelah Qur’an).

    Pantas banyak dari “pengikut sunnah versi imam Persia” itu berakhir dengan status teroris atas nama “agama Islam”.

    Kita yang mengenal Rasulullah berdasarkan 6236 ayat Qur’an, tahu bahwa kabar-kabar itu adalah kabar-kabar bohong, fitnah, olok-olok atas Nabi, karena berlawanan dengan gambaran karakter Rasulullah dalam Qur’an.

    Yang menciptakan julukan “kaum ingkar sunnah” tidak bisa melihat bahwa merekalah yang mengingkari kemuliaan Nabi Muhammad, karena lebih mengikuti tulisan-tulisan kabar burung tentang Beliau (bukan “dari Beliau”) ratusan tahun setelah Beliau wafat, dibandingkan pesan yang ditinggalkan Nabi sendiri, yaitu Qur’an.

  3. Tuhan dalam Qur’an menyatakan bahwa Qur’an itu sudah lengkap, terperinci, tidak luput tertinggal sesuatu apa pun, merupakan ajaran yang sempurna. Tidak ada “tapi” setelah pernyataan itu. Pernyataan “Itu benar, tapi …” adalah sikap mendustakan Qur’an, karena apa pun yang mengikuti kata “tapi” adalah penyangkalan dan kedustaan atas Qur’an, karena seolah Tuhan itu perlu atau bisa dikoreksi. Maha Suci Tuhan dari kebodohan kita.

    Pesan-pesan Tuhan dalam Qur’an ditujukan bagi seluruh umat manusia, tidak semata bangsa Arab. Para pengiman Qur’an memahami pesan-pesan Qur’an dalam bahasa apa pun, tidak wajib dalam bahasa Arab, selama penerjemahannya setia secara kebahasaan.

    Yang keliru adalah “penerjemahan”, “perincian”, “pelengkapan”, “penjelasan” Qur’an oleh para pemimpin Persia ratusan tahun setelah Nabi wafat. Qur’an yang ajarannya luas dan seringkali abstrak karena berhubungan dengan kemajuan peradaban, “diterjemahkan” / “dirincikan” / “dilengkapkan” / “dijelaskan” oleh hadits-hadits ratusan tahun setelah Nabi wafat menjadi ajaran-ajaran dangkal yang keji, kerdil dan bodoh, seperti ajaran minum kencing onta, ajaran congkel mata orang, ajaran siksa orang di panas matahari sampai mati, ajaran rajam (padahal menurut Qur’an justru akan memasukkan pelakunya ke neraka jahanam kekal), ajaran cebok dengan jari dimasukkan ke lubang pantat, larangan makan-minum berdiri, mendahulukan kanan daripada kiri, melarang makan pakai tangan kiri, melarang musik, melarang lukisan atau fotografi, melarang pakaian sutra dan emas buat laki-laki, menyuruh pakai celana cingkrang, menyuruh memperpanjang jenggot, menggoyang-goyang jari telunjuk, dst. yang tidak ada hubungannya dengan urusan keselamatan akhirat dan tauhid tanpa kompromi.

  4. Konsep dan pelaksanaan “shalat versi Qur’an” bermakna sangat luas, dan tidak hanya dilakukan oleh “muslim” (dalam arti keliru “yang mengucapkan dua kalimat syahadat”), mencakup misalnya pemahaman-pemahaman berikut:
    1. Rachel Corrie – Wikipedia adalah seseorang yang melaksanakan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawabnya untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan bagi anak-anak Palestina yang ia bela. Ia sedemikian pasrah / berserahdiri / ber-“islam” pada Tuhan dalam pelaksanaan shalat / kewajiban / tugas / tanggung jawab kemanusiaannya itu, sampai rela untuk mati.

      Dapat disimpulkan bahwa Rachel Corrie adalah seorang muslim yang menegakkan shalat – dalam pengertian ‘muslim’ dan ‘shalat’ yang sesuai dengan Qur’an.

      Rachel Corrie lebih muslim dan lebih taat shalat, daripada seorang pengucap “dua kalimat syahadat” sekalipun “rajin shalat ritual 5 kali sehari” tapi membuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan tindakan terorisme. Menurut Qur’an, para pelaku kerusakan di muka bumi adalah orang-orang kafir – lihat Surah Al-Baqarah [2:6-21]meskipun dia mengucapkan “dua kalimat syahadat” – yang jelas-jelas tidak ada perintahnya – tapi malah ada larangannya – dalam Qur’an.

    2. Seorang ayah sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran sebagai pemimpin, pemberi nafkah, pelindung istri dan anak-anaknya.
    3. Seorang ibu sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran sebagai wakil pemimpin keluarga, pemberi kehangatan kasih sayang, mendukung suaminya dan merawat anak-anaknya.
    4. Seorang karyawan atau anggota organisasi sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran profesionalnya dalam perusahaan atau organisasi tempat ia bergabung.
    5. Seorang pelajar atau mahasiswa sedang shalat ketika ia melaksanakan kewajibannya / tugasnya / tanggung jawabnya memenuhi peran untuk pengembangan secara maksimal kapasitas dan kapabilits intelektualnya.
    6. “Shalat utama” atau kewajiban utama / tugas utama / tanggung jawab utama dari seorang “muslim” – seseorang yang berserah diri pada Tuhan, apapun agama kulturalnya – adalah menghayati dan melaksanakan sumpah pada Tuhan, yang berbunyi “Hanya kepada Engkau kami mengabdi, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”. Karena dengan memenuhi sumpah tersebut, ia akan diberikan bimbingan menuju jalan lurus dan terhindar dari jalan yang dimurkai dan sesat – Surah Al-Fatihah [1:5-7].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.