Terjemahan: Ṣalat dalam Qur’an

Sumber: https://www.quranite.com/salat-in-the-quran/

Ṣalat dalam Qur’an

ṣalāt – kewajiban

Komentar pendahuluan

Pendapat para Tradisionalis, ringkasnya, adalah bahwa kepustakaan non-Qur’ani mereka menyatakan bahwa makna ṣalāt adalah sama dengan x (sejumlah tertentu ritual harian, sedikitnya lima terkadang lebih) dan karena ia tidak menemukan x dalam Qur’an, ia (dan kita) harus paham bahwa Qur’an membutuhkan kepustakaan non-Qur’ani-nya untuk dipahami atau dilaksanakan.

Seseorang bisa jadi berasumsi, berdasarkan gambaran sikap para Tradisionalis yang mudah naik darah dan penuh semangat, bahwa ada satu pernyataan dalam kepustakaan andalan non-Qur’ani-nya tentang bentuk dan isi dari ritual lengkap bernama ṣalāt yang dijabarkan secara jelas. Tetapi ia akan kecele. Tradisionalis telah membentuk sebuah ritual dari potongan-potongan kecil yang ditulis dalam kumpulan kepustakaan ḥadīth dan menyatakan hasilnya sebagai bersumber dari Tuhan. Tak ada satu pun ḥadīth yang dianggap sahih berisi penjelasan lengkap atas ritual yang dinyatakan merupakan karakteristik utama – atau penentu – dari agamanya.

Ini masalah bagi para Tradisionalis. Teologinya didasarkan pada ide bahwa narasumber kisah-kisahnya memiliki ingatan terunggul dan merupakan kaum Muslim terbaik yang pernah ada. Tetapi tidak satupun kisah-kisah yang berasal dari sumber-sumber tersebut menyebutkan satu contoh di mana seseorang dari Muslim terbaik yang pernah ada itu membuktikan kemampuannya untuk melakukan apa yang dapat dilakukan anak kecil dengan kecerdasan rata-rata dan mungkin kurang saleh yang dibesarkan dalam keluarga Muslim Tradisionalis dengan mudah, yaitu: menjabarkan daftar sembahyang harian dan meringkas formatnya secara persis.

Lagi, Qur’an sendiri tidak menyatakan bahwa makna ṣalāt adalah sama dengan x. Tradisionalis mengasumsikan makna x dan lalu menyerang mereka yang meragukan klaimnya karena tidak menemukan makna x dalam Qur’an – sebuah makna yang ia sendiri tak mampu temukan dalam Qur’an atau ambil secara utuh dari sangat banyak sumber-sumber eksternal yang dianggap sah.

Kita ini dewasa dan bukan kanak-kanak. Kita wajib menggunakan akal dan mencari pengetahuan, bukan memuaskan diri dengan asumsi-asumsi – betapa pun meluasnya, berapa lama pun bertahannya, atau betapa pun bergunanya asumsi-asumsi tersebut bagi para elit penguasa dan pengkhianat pemuja-agama mereka. Mungkin kita bisa lebih baik daripada Tradisionalis jika kita abaikan mereka dan menjawab perintah Qur’an untuk mengkaji Qur’an secara seksama dan menggunakan akal.

Penggunaan kata ṣalāt dalam Qur’an

Sebagaimana biasa, bilamana tak ada definisi Qur’ani yang jelas, seperti di sini, persinggahan pertama untuk penyelidikan kita adalah Bahasa Arab yang mapan.

Makna kamus inti non-relijus dari ṣalāt adalah bagian belakang atau tulang ekor dari seekor kuda terdepan yang mana seekor kuda kedua menempel ketika mengikuti kuda terdepan secara dekat. Baik Tradisionalis mau pun saya menganggap makna ini sebagai historikal atau vestigial (bersifat bekas atau sisa). Tetapi jika Tradisionalis memaknai ini secara literal dan memperlakukannya dengan cara yang sama atas pemahaman aktualnya terhadap kata ṣalāt, ia akan perlu mengatakan sesuatu seperti: cara tepat untuk melakukan ṣalāt adalah mengikuti bagian belakang seekor kuda terdepan pada jarak persis delapan puluh sentimeter, mengarah ke Timur Laut, maju dengan kuku sebelah kanan, berjalan dengan kecepatan persis duapuluh mil per jam, menggunakan pelana pendek Arab dengan sanggurdi terlilit tinggi, dan pengendaranya mengenakan pakaian Arab dari abad ketujuh Masehi.

Kasus sebanding adalah kesabaran. Tidak ada cara benar secara tepat untuk memiliki kesabaran. Seseorang memiliki kesabaran atau tidak memilikinya. Dan meski pun benar bahwa dalam beberapa kasus seseorang mungkin menggeretakkan giginya dan mengepalkan kepalannya ketika sedang bersabar, tapi itu tidak berarti bahwa penggeretakan gigi atau pengepalan tangan merupakan definisi kesabaran, apalagi mendefinisikannya secara lengkap.

Tidak ada cara benar secara tepat untuk mengikuti seekor kuda. Seseorang mengikuti seekor kuda atau tidak mengikutinya. Tidak ada cara benar secara tepat untuk bersabar. Situasi dan metoda tepatnya akan berbeda di masing-masing kasus.

Saya mengacu pada kesabaran di sini bukan tanpa alasan:

Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan ṣalāt […] (2:45)
[Terjemahan Saheeh International – dengan ṣalāt tak diterjemahkan]

Karena Qur’an menyandingkan kedua kata ini dengan katakerja yang sama maka adalah cukup pantas – bahkan, harus – untuk berasumsi bahwa keduanya adalah jenis kata yang sama. Tidak layak bahwa suatu katakerja akan mengaitkan katabenda abstrak dengan katabenda kongkrit. Katabenda abstrak mungkin digabungkan – contoh harapan dan ketakutan; katabenda kongkrit mungkin digabungkan – burger dan milkshake. Tetapi, sulit untuk dibayangkan sebuah situasi di mana sebuah katakerja dapat secara pantas menghubungkan ketakutan dengan burger karena keduanya terbentuk dari dua bahan konsep berbeda. Dan karena kita tahu – dan tak dibantah oleh Tradisionalis – bahwa ṣabr bermakna kesabaran (atau padanan sejenisnya), dan karena kita tahu bahwa kesabaran adalah katabenda abstrak dan bukan kongkrit, kesimpulan tak terelakkan adalah ṣalāt juga merupakan katabenda abstrak.

Di sini kita akan membuat Tradisionalis tertekan. Ia akan mengklaim – terbukti dari penerjemahannya – bahwa ṣalāt berarti sembahyang. Dan pembaca orang Barat tak sadar berasumsi bahwa sembahyang adalah katabenda abstrak. Tetapi ini keliru karena ia telah dipengaruhi oleh penerjemahan yang kurang jujur.

Tentu, sembahyang dapat dilihat sebagai hal abstrak – sebuah komunikasi singkat jiwa denganTuhan – dan jika itulah maknanya, maka ia memang abstrak. Tetapi makna ini bukanlah yang dimaksud oleh Tradisionalis – sedikitnya, tidak selalu. Umumnya ia mengartikannya sebagai suatu rumus yang diresepkan secara persis tentang membersihkan-diri, berdiri, membungkuk, bersujud dan duduk, di mana sembahyang (dalam arti abstrak sebagaimana tadi kita gunakan) mungkin ada atau tidak ada. Makna kedua yang lazim di mana Tradisionalis menggunakan kata ṣalāt ini adalah sebanding dengan seni bela diri spesifik kata (kongkrit) yang mana perbaikan (abstrak) mungkin terjadi atau tidak terjadi.

Ringkasnya, kesamaran pada terjemahan Tradisionalis didukung fakta bahwa prayer bagi pengguna Bahasa Inggris umumnya adalah suatu konsep abstrak dan bukan konsep kongkrit, dan karenanya terjemahan yang menggunakan kata prayer berhasil menggelincirkan penggabungan jenis-jenis katabenda lolos dari perhatian pembaca non-spesialis.

Jenis-jenis Katabenda

Sedikit informasi tentang istilah-istilah tatabahasa yang kita diskusikan sepertinya dibutuhkan. Ada tiga cara dasar untuk menggambarkan karakter katabenda-katabenda:

Katabenda tertentu vs katabenda umum: sebuah katabenda tertentu menamai satu orang, tempat, atau benda khusus (Woofy, Gunung Everest), sedangkan katabenda umum menamai suatu jenis atau kelompok (anjing, gunung).

Katabenda kongkrit vs katabenda abstrak: katabenda kongkrit mengacu pada objek material (suatu  meja, seekor anjing), sementara katabenda abstrak mengacu pada sesuatu yang tak berwujud (cinta, seni).

Katabenda terbilang (count nouns) vs katabenda takterbilang atau katabenda massal (noncount or mass nouns): Sebuah katabenda terbilang mengidentifikasi sesuatu yang dapat diawali dengan banyak (many) atau lebih sedikit (fewer) dan (dalam Bahasa Inggris – penerjemah) dapat menjadi jamak dengan ditambahi akhiran –s: fewer coins, many rivers. Sebuah katabenda takterbilang menandakan sesuatu yang tak dapat dibagi secara cacah, seperti uang, tuberkulosis, atau kebahagiaan. […] Seringkali katabenda abstrak adalah katabenda takterbilang juga, seperti: kehormatan, kewajiban, wewenang, cinta.*

*Dari Writer’s Digest Grammar Desk Reference, Gary Lutz, Diane Stevenson.

Ada berlapis kebingungan dan inkonsistensi dalam pemahaman Tradisionalis – dan karenanya perlakuan – atas katabenda ini. Sebaiknya kita mulai dengan mengidentifikasi jenis katabenda dari makna yang dianggap berasal dari kata ṣalāt (yaitu, sejumlah tertentu gerakan yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu).

Meski pun ia tidak selalu menuliskan huruf kapital pada katabenda tsb., ia tetap menganggapnya sebagai katabenda tertentu, yaitu Sembahyang. Seperti halnya Gunung Everest dalam bagian tatabahasa di atas, Sembahyang diartikan sebagai sesuatu yang diketahui dan dikenali sebagai hal tersendiri. Tetapi Tradisionalis berubah-ubah dalam pemaknaan ṣalāt sebagaimana akan kita lihat:

  • Umum: ritual Islami (katabenda tertentu)
  • Sembahyang sebagai suatu abstraksi (katabenda abstrak)
  • Sembahyang orang Yahudi (katabenda tertentu)
  • Pemberkahan – umumnya: pemberkahan yang dikirimkan oleh penganut kepada nabi yang telah meninggal (katabenda abstrak)
  • Pemberkahan – dari Tuhan kepada manusia (katabenda abstrak)
  • Sinagog (katabenda umum)

Pada titik ini kita perlu ingat bahwa Qur’an meletakkan ṣalāt berdekatan dengan ṣabr, dan bahwa ṣabr tak terbantahkan merupakan katabenda abstrak.

Karakteristik menarik dari katabenda abstrak adalah bahwa ketika seseorang tahu tentangnya maka tidak diperlukan lagi instruksi tambahan. Hingga kini, tak ada Tradisionalis yang mencoba membuat pembenaran kepada saya bahwa kesabaran tidak dapat dipahami tanpa penjelasan dari sumber-sumber non-Qur’ani pilihannya. Seseorang tahu apakah ia memiliki kesabaran atau tidak. Hal yang sama berlaku untuk harapan atau cinta atau ketakutan. Hal-hal ini tak hanya Qur’an tak berikan definisi lengkap, mereka memang tak bisa didefinisikan secara mendalam berdasarkan sifat kata-kata tersebut.

Karena ṣalāt pada dasarnya adalah hal yang berjenis sama dengan kesabaran – yaitu sebagai katabenda abstrak – ketika hal ini dikenali, ia tidak membutuhkan informasi eksternal untuk dipahami, sebagaimana kata ṣabr (kesabaran).

Jika kita terima bahwa ṣalāt adalah katabenda abstrak – dan bagi saya tak ada sudut pandang lain yang memiliki pembenaran Qur’ani berdasarkan cara ṣalāt digabungkan dengan makna katabenda abstrak yang terbukti – masih harus ditetapkan cara mengidentifikasi ṣalāt dalam konteks Qur’ani dan, jika kita ternyata mendapatkan makna yang tampak wajar, bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa kita benar.

Menjawab poin kedua terlebih dahulu, saya sarankan di sini apa yang saya patok di tempat lainnya, yaitu: apa yang benar akan cocok – dan akan cocok di semua konteks. Sebuah tangan dan sarung tangan memiliki korelasi yang tidak bisa dimiliki sebuah kaki dan sarung tangan bagaimana pun hal itu dipaksakan. Dan apa yang dimiliki Tradisionalis tidak cocok dalam makna kata dan jenis katabenda. Ia terpaksa menerjemahkan ṣalāt dalam banyak cara untuk mempertahankan asumsi-asumsi dasarnya. Dan tak satupun makna ini memiliki kesamaan dengan pengertian non-relijius tentang ṣalāt sebagai bagian dari tulang ekor seekor kuda terdepan yang diikuti oleh kuda pengikutnya.

Saya nyatakan bahwa makna yang benar akan cocok di semua bagian; akan konsisten dalam arti kata; akan konsisten dalam hal jenis katabenda; dan akan memiliki hubungan yang jelas dengan arti kata asli dan lazimnya.

Tentang poin pertama – cara tepat untuk mengidentifikasi makna ṣalāt dari konteks Qur’ani – pertama harus kita kenali kesulitan yang melekat dalam setiap upaya untuk menyimpulkan makna eksak dari katabenda abstrak dalam situasi di makna makna untuk katabenda tersebut tidak ada. Jika kita gunakan ṣabr (kesabaran) sebagai contoh: seandainya makna ṣabr telah hilang, akan lebih sulit untuk merekonstruksi makna ini secara meyakinkan dari konteks daripada, misalnya, makna dari kuda, kaki atau air, berdasarkan perbedaan jenis di antara konsep-konsep abstrak dan kongkrit.

Kita beruntung karena kita bisa mengandalkan fakta bahwa ṣalāt menonjol dalam wacana Qur’ani. Katabenda ini muncul 83 kali dan akarkata ṣ-l-w muncul secara total 99 kali. Adalah layak untuk berharap bahwa keberadaan konteks yang mengungkapkan ketidakcocokan klaim Tradisionalis untuk ṣalāt akan juga menyediakan kumpulan konteks yang cukup untuk menurunkan tesis yang masuk akal, dan setelah mengukur tesis tersebut di seluruh konteks, untuk yakin pada temuan apakah tesis kita cocok di semua konteks.

Tetapi mulai dari mana?

aqīmū al ṣalāt wa ātu al zakāt

Seseorang yang akrab dengan Qur’an dalam bahasa Arab akan tahu, objek penyelidikan kita (ṣalāt) membentuk bagian dari perintah Qur’ani yang sering muncul: aqīmū al ṣalāt wa ātu al zakāt. Ini, saya usulkan, adalah bagian perulangan Qur’ani yang paling tampak signifikan, dan dengan inilah saya memulai penyelidikan.

Tampak bagi saya bahwa melihat kata kerja yang digunakan dengan ṣalāt di sini (aqāma) dalam konteks lain mungkin bisa menjelaskan maknanya, baik dalam kombinasi dengan ṣalāt dalam rumus ini, maupun pada ṣalāt di mana ia muncul dengan kata kerja lainnya.

Tradisionalis menyatakan aqāma berarti mendirikan (dan sinonimnya) ketika ia muncul bersama ṣalāt. Tetapi, bentuk IV katakerja aqāma muncul 54 kali (berkali-kali tidak berhubungan dengan ṣalāt) dan saya perhatikan semuanya.

Saya perhatikan bahwa katakerja aqāma mengambil ḥudūd allah (batas-batas Tuhan) sebagai objek langsung. Di sini, Tradisionalis terpaksa menerjemahkan aqāma sebagai menjaga, mematuhi, menegakkan (dalam pengertian melaksanakan).

Tetapi ini bukan yang ia maksud dengan aqāma ketika ia bicara tentang ṣalāt.

Ḥudūd allah (batas-batas Tuhan) – bahkan dalam tolok-ukur Tradisionalis – bukan sekedar kebiasaan atau adat atau pelaksanaan persyaratan ritual sebagaimana ia asumsikan untuk ṣalāt, tapi arahan jelas dalam urusan kehidupan dan dimaksudkan untuk ditegakkan dan dilaksanakan.

Ḥudūd allah (batas-batas Tuhan) dapat dianggap sebagai tepian yang menjaga sungai di mana kaum beriman dapat memilih jalan mereka sendiri. Ekstrimitas ada di luar batas; apa pun yang berada di antara ekstrimitas itu diperbolehkan. Apa yang diterjemahkan oleh Tradisionalis sendiri di sini berarti mematuhi, menegakkan, melaksanakan, taat pada ḥudūd allah. Ini mirip dengan makna perintah untuk mematuhi aturan lalu-lintas. Jadi arti aqāma dalam konteks sebanding adalah: mengambil tindakan yang sesuai dengan kriteria tertentu. Inilah satu-satunya makna yang mungkin.

Tetapi makna ini tidak dapat diterapkan dengan baik pada ritual apa pun. Seseorang dapat membuat sebuah ritual suatu kebiasaan. Seseorang mungkin mengulang suatu ritual. Seseorang mungkin melakukan suatu ritual. Tetapi ḥudūd allah memberikan seorang beriman suatu batasan praktis yang berdampak pada tindakan-tindakannya dan yang harus dipatuhi. Suatu do’a ritual, per se, tak berdampak apa pun.

Ringkasan pada titik ini:

  • Kita telah lihat bukti kontekstual Qur’ani yang mendukung ṣalāt sebagai katabenda abstrak.
  • Kita telah lihat bahwa katabenda abstrak pada umumnya bisa langsung dipahami (kita tahu makna bersabar; kita tidak butuh pedoman rinci tentang bagaimana melakukannya)
  • Kita tahu – karena Tradisionalis tak lelah menunjukkan poin ini – bahwa Qur’an tak memiliki pedoman tentang ṣalāt; tapi tak seperti dia, kita ambil bahwa ini tidak lebih signifikan daripada ketiadaan pedoman spesifik untuk masalah kesabaran
  • Kita tahu bahwa kata perintah yang digunakan untuk ḥudūd allah (batas-batas Tuhan) adalah katakerja yang biasanya digunakan terkait ṣalāt
  • Kita tahu bahwa ḥudūd allah menunjukkan kewajiban tergantung-situasi yang memungkinkan seseorang memiliki ruang gerak dalam rentang tindakan yang diperbolehkan

Dengan dasar di atas, saya mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa ḥudūd allah (yang mengharuskan seseorang untuk menegakkan prinsip-prinsip tertentu) dan ṣalāt mungkin secara substantif adalah hal yang sama – karena mereka berbagi katakerja yang sama – dan bahwa sementara ḥudūd allah adalah prinsip-prinsip (yang rinciannya diketahui dan harus diterapkan) yang secara ilustratif bersifat yang harus dijauhi seseorang, timbul pertanyaan: mungkinkah ṣalāt dikarakteristikkan oleh prinsip-prinsip yang harus diikuti seseorang?

Muncul pertanyaan berikutnya tentang bagaimana sebaiknya menuliskan hal tersebut dalam Bahasa Inggris. Katabenda abstrak terbaik bagi saya yang menggambarkan konsep berjuang untuk mengikuti sedekat mungkin pada sesuatu adalah duty (kewajiban).

Alur pikiran ini membawa saya kembali pada dasar asal kata di atas bentukan akar kata ṣ-l-w. Analoginya cocok sempurna. Seekor kuda terdepan mendiktekan jalur tertentu tergantung situasi dan kuda kedua berusaha sedekat mungkin dengan kuda pertama. Apapun yang dilakukan kuda terdepan menjadi kewajiban bagi kuda pengikut.

Kewajiban dari seorang beriman, seseorang bisa simpulkan, adalah menyenangkan Tuhan dengan percaya hanya padaNya dan menjaga firman-firmanNya. Kuda pengikut tahu kewajibannya dengan melihat kuda di depan. Seorang beriman tahu kewajibannya dengan melihat firman-firman Tuhan.

Langkah berikutnya adalah menguji kewajiban sebagai makna di seluruh keberadaannya dalam teks. Ia cocok di setiap kasus. Ia cocok seperti tangan dalam sarungtangan, bukan kaki dalam sarungtangan. Tak ada kemunculan tumpangtindih atau takjelas. Tak ada kiriman berkah untuk nabi yang sudah wafat, sinagog Yahudi dan semua jalan memutar yang harus diambil Traditionalis untuk mempertahankan kesetiaannya terhadap agama yang tak ada dalam Qur’an. Bacaan mengalir di seluruhnya dan tanpa kendala, termasuk dalam kemunculannya di ayat-ayat seperti 9:84, 9:103, 11:87, 19:59, 24:41, 33:43, 33:56, 35:18 dan 58:13 di mana tegangan yang tercipta dari konteks sekitarnya begitu besar sehingga membuat Tradisionalis biasanya terpaksa mengabaikan makna yang disukainya supaya bisa melengkapi ayat itu dengan wajah lurus.

Yang penting, hilang juga kebutuhan untuk lompat dari satu jenis katabenda ke lainnya.

Katabenda Terhitung

Satu-satunya perbedaan di antara ṣalāt dan ṣabr dalam pengertian yang kita cari di sini adalah bahwa ṣalāt adalah katabenda terhitung sekaligus katabenda tak-terhitung, sementara ṣabr hanyalah katabenda tak-terhitung. Poin ini selaras dengan penggunaan Qur’ani dan Bahasa Arab normatif karena ṣalāt bisa bersifat jamak dan ṣabr tidak.

Karena ṣalāt adalah katabenda terhitung adakalanya the duty (kewajiban itu/tersebut) tepat maknanya. Sayangnya, tak ada perbedaan dalam bentuk (seringnya, katabenda ini mengambil bentuk definite article) apakah yang dimaksud adalah duty atau the duty. Ada perbedaan jelas dalam fungsi (satu bisa melihat kewajiban secara umum, satunya lagi kewajiban tertentu) tapi perbedaan tersebut tidak terindikasi secara sama sebagaimana dalam Bahasa Inggris dengan ada atau tidaknya kehadiran definite article.

Konteks dan penggunaan adalah pedoman kita.

Konotasi kewajiban

Penyelidikan menuntun saya pada kesimpulan bahwa ṣalāt memiliki tiga konotasi:

  • kewajiban tertentu (dalam arti kewajiban utama sebagai seorang manusia)
  • kewajiban secara umum
  • kewajiban khusus (tergantung-konteks)

Ketiganya berhubungan dan saling meliputi, tapi sama perlunya bagi kita untuk memahaminya.

Penggunaan pertama kata ṣalāt muncul pada 2:2-3. Berikut ini penerjemahannya:

Itulah perjanjian yang tentangnya tak ada keraguan
Petunjuk bagi mereka yang takut secara bijak:
Mereka yang percaya pada yang tak terlihat
Dan menegakkan kewajiban
Dan mendayagunakan apa yang telah Kami berikan pada mereka
(2:2-3)

Bagian perjanjian kita ada pada 1:5:

Hanya Engkau yang kami abdi
Dan hanya dari Engkau kami mohon pertolongan.
(1:5)

Maka inilah kewajiban itu (ṣalāt). Yaitu untuk mengabdi hanya pada Tuhan dan untuk mencari pertolongan hanya dariNya. Inilah inti dari monoteisme sejati dan tidak semata-mata berlaku bagi mereka yang menyebut diri Muslim.

Dua konotasi kewajiban lainnya adalah bersifat umum (yaitu, kewajiban sebagai konsep) atau tergantung-konteks (yaitu, menunjukkan kewajiban tertentu yang muncul dari atau implisit ada dalam konteks).

Upaya untuk mengubah kata benda abstrak ini menjadi sesuatu yang spesifik dan konkrit adalah menerapkan sebuah sifat pada kata yang Qur’an sendiri menyangkalnya.

Ringkasan: ṣalāt memiliki konotasi-konotasi berikut:

  • Kewajiban utama kita pada Tuhan (yaitu ayat 1:5)
  • Kewajiban sebagai konsep umum (perbandingan: harapan atau kesabaran)
  • Kewajiban yang tergantung-konteks (yaitu sesuatu yang jelas dari konteks yang harus kita lakukan)

Jelas, ada persilangan antara ketiganya sebagaimana ada dalam penggunaan kata duty dalam Bahasa Inggris.

Sembahyang

Karena hantaman yang dialami ṣalāt selama lebih dari seribu tahun saya perlu mengatakan beberapa hal tentang sembahyang.

Ada contoh-contoh dalam Qur’an yang memperlakukan sembahyang dalam konteks ṣalāt (kewajiban). Jelas, sembahyang adalah kewajiban bagi Rasul. Jika kita pilih ikuti Rasul, kita jadikan sembahyang sebagai kewajiban kita juga.

Untuk saya sendiri, saya memandang sembahyang sebagai sebuah ṣalāt (kewajiban). Tetapi ia tidak lebih wajib daripada penulisan buku ini atau aktivitas wajib lainnya yang saya lakukan. Dan tidak ada cara tepat secara objektif untuk melakukan sebuah kewajiban selama ia sesuai dengan prinsip-prinsip umum dalam Qur’an, jadi tidak ada cara yang mutlak tepat buat melakukan sembahyang – dan menyatakan sebaliknya adalah membuat kebohongan yang seolah berasal dari Tuhan.

Saya cukup nyaman menyesuaikan diri dengan bentuk-bentuk sembahyang Tradisionalis dalam mesjid-mesjid tapi saya tidak melihatnya sebagai mengikat atau sangat tepat – tapi, saya melihat setiap klaim bahwa metoda ini-dan-itu sebagai metoda satu-satunya yang tepat adalah berlawanan dengan semangat dan isi Qur’an.

Saya berpandangan bahwa mengecam seseorang karena bentuk sembahyangnya adalah sama bodohnya dengan mengecamnya karena mengemudi di sisi kiri dan bukan di sisi kanan. Bagi saya, pertanyaannya bukanlah pada sisi jalan mana ia mengemudi, tapi apakah ia memenuhi kewajibannya untuk sampai ke tujuan dengan aman dan bertanggungjawab dalam konteks lokal.

Akhir kata, secara Qur’ani, tak ada yang sektarian atau ‘Islami’ yang dapat dinyatakan untuk ṣalāt lebih daripada ṣabr.

Semua contoh dalam teks diberikan catatan kaki.

Referensi

ṣallata

3:39, 4:102, 4:102, 9:84, 9:103, 33:43, 33:56, 33:56, 75:31, 87:15, 96:10, 108:2.

muṣalīn

70:22, 74:43, 107:4.

ṣalāt

2:3, 2:43, 2:45, 2:83, 2:110, 2:153, 2:157, 2:177, 2:238, 2:238, 2:277, 4:43, 4:77, 4:101, 4:102, 4:103, 4:103, 4:103, 4:142, 4:162, 5:6, 5:12, 5:55, 5:58, 5:91, 5:106, 6:72, 6:92,6:162, 7:170, 8:3, 8:35, 9:5, 9:11, 9:18, 9:54, 9:71, 9:99, 9:103, 10:87, 11:87, 11:114, 13:22, 14:31, 14:37, 14:40, 17:78, 17:110, 19:31, 19:55, 19:59, 20:14, 20:132, 21:73, 22:35, 22:40, 22:41, 22:78, 23:2, 23:9, 24:37, 24:41, 24:56, 24:58, 24:58, 27:3, 29:45, 29:45, 30:31, 31:4, 31:17, 33:33, 35:18, 35:29, 42:38, 58:13, 62:9, 62:10, 70:23, 70:34, 73:20,98:5, 107:5.

muṣallan

2:125

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.