Terjemahan: Mengidentikkan ‘Agama Islam’ dengan Qur’an adalah Sebuah Kekeliruan

Sumber: https://www.quranite.com/islam-is-not-in-the-quran/

Mengidentikkan ‘Agama Islam’ dengan Qur’an adalah Sebuah Kekeliruan

Saya mendengar orang-orang menuduh Qur’an yang sesungguhnya ditujukan kepada agama yang mengklaim Qur’an sebagai kitab sucinya.

Biasanya, orang tersebut punya masalah dengan hal tertentu terkait Islam – atau dengan yang Muslim katakan atau lakukan – dan ia berasumsi bahwa hal tersebut ada dalam Qur’an, ketika sesungguhnya, seringkali, tidak ada.

Saya telah mengkaji Qur’an secara teliti dan menerjemahkannya secara sangat sistematik. Saya melihat tidak ada agama Islam di antara kedua sampulnya. Singkatnya: Islam tidak ada dalam Qur’an.

Untuk ilustrasi, kita perlu konsep yang kita maksud sebagai Islam.

Ada banyak Islam. Faktanya, tak berujung. Tetapi untuk sederhananya kita akan ambil apa yang diasumsikan para Islamis sendiri sebagai inti dan definisi utuh dari keimanannya:

  • Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah
  • Bersembahyang lima kali sehari
  • Membayar 2,5% dari simpanan sebagai pajak tahunan fakir miskin
  • Berpuasa dari matahari terbit hingga matahari terbenam selama bulan Ramadan
  • Berziarah ke Mekkah untuk Haji (pada tanggal-tanggal tertentu setiap tahun) bila mampu

Maka inilah definisi inti Islam – atau sedikitnya Islam Suni yang membentuk mayoritas luas dunia Islam.

Syiah memiliki beberapa tambahan, tapi kita bisa ambil lima hal di atas sebagai dalih pokok.

Sebelum kita mulai tunjukkan bagaimana hal-hal di atas tidak berhubungan dengan Qur’an, perlu ditunjukkan bahwa konsep ‘Islam’ sebagai sebuah agama (dalam arti dogma dan ritual), tidak ada dalam Qur’an. Kata Bahasa Arab islām adalah kata benda abstrak dan bermakna ketundukan (biasanya: kepada Tuhan) atau damai (biasanya: dengan Tuhan). Kata itu tidak punya terapan lebih spesifik daripada harapan dalam Tuhan atau kepercayaan dalam Tuhan atau ketakutan pada Tuhan. Tidak ada.

Pernyataan bahwa islām adalah agama (dalam arti dogma dan ritual) berasal dari kepustakaan hadits. Kepustakaan ini – ditulis di antara 100-200 tahun setelah masa turunnya wahyu – adalah pondasi sesungguhnya dari agama Islam.

Dan seandainya para penganutnya menyatakan seperti itu, boleh saja. Masalahnya, mereka mengklaim bahwa Qur’an adalah kitab pondasi mereka – padahal sesungguhnya tidak seperti itu.

Lima rukun di atas juga berasal dari kepustakaan hadits. Qur’an tidak membahas rukun-rukun apa pun dalam hal agama, dan pastinya bukan lima.

Tetapi apakah yang disebut sebagai rukun-rukun itu ada dalam Qur’an sebagai substansi meski tak bernama?

Sebenarnya, tidak.

Satu-satunya cara kita membayangkannya ada, adalah bila kita memiliki kesetiaan awal kepada agama bernama Islam, yang juga berasal dari kepustakaan hadits, lalu menerapkan konsep-konsep dari kepustakaan hadits kepada Qur’an secara sewenang dan inkonsisten, untuk mencapai tujuan yang dibutuhkan kepustakaan hadits secara sepotong-sepotong dan menutup pikiran kita menghadapi luapan masalah yang diciptakan proses itu ketika berhadapan dengan wacana Qur’ani.

Bila Qur’an dikaji pada faedahnya sendiri, secara konsisten dan rasional, kita temukan tidak ada dukungan atas lima rukun tersebut sama sekali.

Saya akan membahasnya dalam urutan di atas:

  • Tidak ada pernyataan satu pun tentang tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dalam Qur’an. Tidak ada. Orang-orang yang menyatakan kesaksian Muhammad sebagai utusan Tuhan dalam Qur’an adalah para munafik (QS Al-Munafiqun (63) ayat 1) – dan mereka langsung dinyatakan sebagai pembohong oleh Tuhan. Inilah yang paling bisa kita katakan tentang shahāda atau kesaksian – yang merupakan pernyataan sebagai syarat memasuki agama yang kita sebut Islam.
  • Dasar bagi apa yang kita pikir sebagai sembahyang Islam adalah – tak mengejutkan – kepustakaan hadits. Qur’an tidak menyatakan: sembahyanglah lima kali sehari. Qur’an menyeru Nabi untuk mendekat kepada Tuhan pada waktu-waktu tertentu, tapi seruan itu diarahkan kepada Nabi pribadi, dan banyaknya bukanlah lima – bagaimana pun para Tradisionalis merenggut teks Qur’an untuk disesuaikan dengan persyaratan yang tidak ada dalam Qur’an. Nabi diperintahkan untuk bersembahyang secara pribadi – tanpa mengeraskan suara – pada QS Al-A’raf (7) ayat 205; kaum beriman diperintahkan untuk berdiri menghadap Tuhan berdua-dua dan sendiri (QS Saba’ (34) ayat 46); masjid-masjid tertua tidak berupa ruang aula sembahyang besar tapi kebanyakan terbuat dari kamar-kamar kecil. Mereka juga tidak menghadap Mekkah. Mereka menghadap Petra.
  • Istilah dalam Qur’an yang para Tradisionalis indikasikan sebagai pajak tahunan 2,5% atas simpanan adalah zakāt. Kata zakāt berarti kesucian. Qur’an tidak menyatakan bahwa zakāt adalah pajak 2,5%. Qur’an juga tidak menyatakan bahwa zakāt adalah sejenis pajak. Qur’an memerintahkan kita untuk memberikan sebagian dari apapun yang Allah berikan kepada kita sebagai cara untuk mensucikan jiwa kita. Qur’an memerintahkan kita untuk membayar pajak tetap sebesar 20% dari semua pampasan perang. Tidak ada lainnya. Hal-hal spesifik yang diklaim para Tradisionalis untuk zakāt sebagai kewajiban pajak pada angka tertentu terkait agama Islam, tidak ada dalam Qur’an.
  • Kata ramaḍān muncul sekali dalam Qur’an (QS Al-Baqarah (2) ayat 185). Kata ramaḍān berarti panas terik atau dipanasi secara terik (tentang tanah di bawah sinar matahari). Kata itu juga menunjukkan tindakan berapi-api (secara literal. dari jatuhnya) sinar matahari pada bebatuan dan pasir, dst.; musim panas yang terik dan membakar. Kata ini dilekatkan kepada bulan tertentu hanya sesudah pewahyuan Qur’an dan jatuh pada semua bagian waktu dalam tahun – termasuk musim dingin – karena kalendar Islam adalah kamariah. Qur’an secara sederhana berkata Barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan (yaitu, bulan baru), berpuasalah. Qur’an tidak menetapkan bulan tertentu. Kata-kerja ṣāma (puasa) diikuti oleh itu sebagai objek langsungnya. Jelas hal itu adalah sebuah frasa waktu karena seandainya hal itu menunjukkan berpuasa dari sesuatu maka kata-depannya adalah min (dari). Kata-benda yang menunjukkan waktu (hari, jam, dst.) bilamana muncul tanpa kata-depan menunjukkan pada atau dalam (contoh: pada hari, dalam jam). Kata-benda itu tidak menunjukkan selama atau dalam sebuah rentang waktu. Lane dalam karya otoritatif Arabic-English Lexicon (halaman 1759) merasa wajib mengatasi masalah ini dan menyatakan bahwa ṣāma ashshuhra (yang merupakan bentuk dalam ayat ini) sesungguhnya berarti ṣāma fī ashshuhra. Apa yang dicobanya adalah mendekatkan apa yang dikatakan Qur’an (berpuasalah dalam) menjadi pengertian dogma Tradisionalis (berpuasalah selama atau berpuasalah dalam rentang waktu) karena ia memahami (secara benar) bahwa kata-kata dalam Qur’an itu tidak sesuai dengan keinginan para Tradisionalis. Faktanya, Qur’an menyatakan kaum beriman supaya berpuasa dalam setiap bulan. Adapun tentang berapa hari seseorang berpuasa – seperti halnya jumlah sedekah yang diberikan seseorang – diserahkan keputusannya kepada mereka. Paling sedikitnya ada. Lebih dari itu terserah kepada yang bersangkutan.
  • Fakta, Mekkah adalah konstruksi belakangan. Semua bukti Qur’ani menunjukkan Muhammad sebagai warga kota Petra (lihat Article XVIII dalam Appendix terjemahan Qur’an yang saya lakukan, dapat diunduh gratis di sini). Mekkah tidak ada dalam peta sampai sekitar 900 Masehi. Mekkah tidak mengesankan berdasarkan deskripsi jelas dalam Qur’an. Kata makkah muncul sekali dalam Qur’an. Kata itu adalah sebuah kata-benda sederhana dan berarti penghancuran dan makna itu cocok dengan konteks ayat kata itu ditemukan. Sedikitnya, para peziarah yang mengunjungi Mekkah setiap tahun akan mengunjungi sebuah tempat di mana Muhammad tidak pernah berkunjung dan sepertinya tidak pernah mendengarnya. Tetapi, kita harus catat bahwa perintah untuk berziarah (QS Ali ‘Imran (3) ayat 97) ada dalam bentuk kalimat lampau (past tense) (seperti kisah Musa menyeberangi laut atau penghancuran kota Luth). Itu sejarah. Dan pada QS At-Taubah (9) ayat 28 – setelah kita bebas dari penyimpangan pemahaman para Tradisionalis – jadi jelas bahwa kaum beriman diperintahkan untuk meninggalkan lokasi tersebut apa pun yang terjadi. Tujuan Haji adalah mengingatkan para suku-suku untuk mengikuti Tuhan semata. Tugas itu telah selesai, tempat itu tidak lagi punya tujuan.

Jadi, pondasi Islam tidak ada dalam Qur’an. Dan karena pondasi ini tidak terkait dengan Qur’an, segala sesuatu yang dibangun di atasnya – dan memang banyak hal yang dibangun di atasnya – tidak berkaitan juga dengan Qur’an.

Hadits adalah satu-satunya pondasi agama Islam dan kita harus berhenti mencampuradukkan Qur’an dengan sebuah agama yang tidak memiliki hubungan sejati dengannya.

Qur’an memandang dirinya sendiri secara sangat berbeda. Saya telah memeriksanya dengan sangat teliti secara mendalam dan saya tidak menemukan agama di dalamnya. Alih-alih, Qur’an adalah buku pedoman.

Qur’an memberikan:

  • Prinsip-prinsip umum hidup yang benar
  • Contoh-contoh sejarah penumbangan tirani (dan metoda untuk melakukannya kapan pun)
  • Pemahaman tentang makna hidup ini dan apa yang menunggu kita di akhirat
  • Kabar baik dan peringatan
  • Sejarah-sejarah lain

Agama adalah tipuan, bersama semua tipuan lain.

Saya mendesak mereka yang memahami ini dan terbuka kepada sebuah wahyu dari Tuhan berdasarkan wahyu itu sendiri – dan tidak berdasarkan suatu agama yang diciptakan lama sesudahnya – untuk mengkaji sendiri isinya.

English Bahasa Indonesia
Islam is not in the Qur’an Islam tidak ada dalam Qur’an
I hear people make accusations at the Qur’an which are really directed at the religion which claims the Qur’an as its scripture. Saya mendengar orang-orang menuduh Qur’an yang sesungguhnya ditujukan kepada agama yang mengklaim Qur’an sebagai kitab sucinya.
Typically, the person has an issue with a certain thing which is connected with Islam – or with what Muslims say or do – and he assumes it is in the Qur’an when, often as not, it isn’t. Biasanya, orang tersebut punya masalah dengan hal tertentu terkait Islam – atau dengan yang Muslim katakan atau lakukan – dan ia berasumsi bahwa hal tersebut ada dalam Qur’an, ketika sesungguhnya, seringkali, tidak ada.
I have analysed the Qur’an closely and translated it in a highly systematic manner. I see the religion of Islam nowhere between its covers. In short: Islam is not in the Qur’an. Saya telah mengkaji Qur’an secara teliti dan menerjemahkannya secara sangat sistematik. Saya melihat tidak ada agama Islam di antara kedua sampulnya. Singkatnya: Islam tidak ada dalam Qur’an.
To illustrate, we need some concept of what we mean by Islam. Untuk ilustrasi, kita perlu konsep yang kita maksud sebagai Islam.
There’s lots of Islam. In fact, it is never-ending. But for the sake of simplicity we’ll take what the Islamist himself assumes to be the core and indivisible definition of his faith: Ada banyak Islam. Faktanya, tak berujung. Tetapi untuk sederhananya kita akan ambil apa yang diasumsikan para Islamis sendiri sebagai inti dan definisi utuh dari keimanannya:
To bear witness that there is no God but God and that Muhammad is the messenger of God Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah
To pray five times a day Bersembahyang lima kali sehari
To pay 2.5% on savings as an annual poor tax Membayar 2,5% dari simpanan sebagai pajak tahunan fakir miskin
To fast from first light to sundown during the month of Ramadan Berpuasa dari matahari terbit hingga matahari terbenam selama bulan Ramadan
To make pilgrimage to Makkah for the Hajj (the date of which is set at specific time each year) if one is able Berziarah ke Mekkah untuk Haji (pada tanggal-tanggal tertentu setiap tahun) bila mampu
This then, is the core definition of Islam – or at least of Sunni Islam which makes up the vast majority of the Islamic world. Maka inilah definisi inti Islam – atau sedikitnya Islam Suni yang membentuk mayoritas luas dunia Islam.
The Shia have a few additions, but we can safely take the five points above as central canon. Syiah memiliki beberapa tambahan, tapi kita bisa ambil lima hal di atas sebagai dalih pokok.
Before we begin to show how the points above bear no relation with the Qur’an it as well to point out that the very concept of ‘Islam’ as a religion (in the sense of dogma and rite) is nowhere found in the Qur’an. The Arabic islām is an abstract noun and means submission (typically: to God) or peace (typically: with God). It has no more specific application than hope in God or faith in God or fear of God. None. Sebelum kita mulai tunjukkan bagaimana hal-hal di atas tidak berhubungan dengan Qur’an, perlu ditunjukkan bahwa konsep ‘Islam’ sebagai sebuah agama (dalam arti dogma dan ritual), tidak ada dalam Qur’an. Kata Bahasa Arab islām adalah kata benda abstrak dan bermakna ketundukan (biasanya: kepada Tuhan) atau damai (biasanya: dengan Tuhan). Kata itu tidak punya terapan lebih spesifik daripada harapan dalam Tuhan atau kepercayaan dalam Tuhan atau ketakutan pada Tuhan. Tidak ada.
The assertion that this islām is a religion (in the sense of dogma and rite) comes from the hadith literature. This literature – written between 100-200 years after the time of the revelation – is the true foundation of the religion of Islam. Pernyataan bahwa islām adalah agama (dalam arti dogma dan ritual) berasal dari kepustakaan hadits. Kepustakaan ini – ditulis di antara 100-200 tahun setelah masa turunnya wahyu – adalah pondasi sesungguhnya dari agama Islam.
And if its adherents simply said as much, that would be one thing. However, they claim the Qur’an as their foundational book – and this is simply not the case. Dan seandainya para penganutnya menyatakan seperti itu, boleh saja. Masalahnya, mereka mengklaim bahwa Qur’an adalah kitab pondasi mereka – padahal sesungguhnya tidak seperti itu.
The five pillars just listed themselves also come from the hadith literature. The Qur’an does not discuss pillars of any sort with regard to a religion, and certainly not five. Lima rukun di atas juga berasal dari kepustakaan hadits. Qur’an tidak membahas rukun-rukun apa pun dalam hal agama, dan pastinya bukan lima.
But are these so-called pillars themselves in the Qur’an in substance if not in name? Tetapi apakah yang disebut sebagai rukun-rukun itu ada dalam Qur’an sebagai substansi meski tak bernama?
Actually, no. Sebenarnya, tidak.
The only way we can imagine them there is if we have a pre-existing allegiance to the religion called Islam which itself comes from the hadith literature and then apply concepts from the hadith literature to the Qur’an on an arbitrary and inconsistent basis in order to achieve goals the hadith literature requires on a piecemeal basis and close our minds against the tidal wave of problems that process creates vis-à-vis the Qur’anic narrative. Satu-satunya cara kita membayangkannya ada, adalah bila kita memiliki kesetiaan awal kepada agama bernama Islam, yang juga berasal dari kepustakaan hadits, lalu menerapkan konsep-konsep dari kepustakaan hadits kepada Qur’an secara sewenang dan inkonsisten, untuk mencapai tujuan yang dibutuhkan kepustakaan hadits secara sepotong-sepotong dan menutup pikiran kita menghadapi luapan masalah yang diciptakan proses itu ketika berhadapan dengan wacana Qur’ani.
When the Qur’an is assessed on its own merit and in a consistent and rational manner, we find no support for the supposed five pillars at all. Bila Qur’an dikaji pada faedahnya sendiri, secara konsisten dan rasional, kita temukan tidak ada dukungan atas lima rukun tersebut sama sekali.
I will take them in the order we have them above: Saya akan membahasnya dalam urutan di atas:
There is no single statement to the effect that there is no God but God and Muhammad is the messenger of God in the Qur’an. None. The only people who make a point of bearing witness that Muhammad is the messenger of God in the Qur’an are hypocrites (63:1) – and they are immediately identified as liars by God. This is the most we can say about the so-called shahāda – or testimony – which is the statement by which one is supposed to enter the religion we call Islam. Tidak ada pernyataan satu pun tentang tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dalam Qur’an. Tidak ada. Orang-orang yang menyatakan kesaksian Muhammad sebagai utusan Tuhan dalam Qur’an adalah para munafik (QS Al-Munafiqun (63) ayat 1) – dan mereka langsung dinyatakan sebagai pembohong oleh Tuhan. Inilah yang paling bisa kita katakan tentang shahāda atau kesaksian – yang merupakan pernyataan sebagai syarat memasuki agama yang kita sebut Islam.
The basis for what we think of as the Islamic prayer is – unsurprisingly – the hadith literature. Nowhere does the Qur’an say: pray five times a day. It tells the prophet to draw close to God at certain times, but that was directed towards him personally, and those times nowhere equal five – no matter how the Traditionalist pulls at the text to make it conform with his pre-existing requirements. This is also no particular prayer format in the Qur’an. The prophet is told to pray privately – without publicity of speech – at 7:205; the believers are told to arise for God in twos and alone (34:46); the earliest mosques did not comprise huge prayer halls but were largely made up of small cubicles. They also did not face Makkah. They faced Petra. Dasar bagi apa yang kita pikir sebagai sembahyang Islam adalah – tak mengejutkan – kepustakaan hadits. Qur’an tidak menyatakan: sembahyanglah lima kali sehari. Qur’an menyeru Nabi untuk mendekat kepada Tuhan pada waktu-waktu tertentu, tapi seruan itu diarahkan kepada Nabi pribadi, dan banyaknya bukanlah lima – bagaimana pun para Tradisionalis merenggut teks Qur’an untuk disesuaikan dengan persyaratan yang tidak ada dalam Qur’an. Nabi diperintahkan untuk bersembahyang secara pribadi – tanpa mengeraskan suara – pada QS Al-A’raf (7) ayat 205; kaum beriman diperintahkan untuk berdiri menghadap Tuhan berdua-dua dan sendiri (QS Saba’ (34) ayat 46); masjid-masjid tertua tidak berupa ruang aula sembahyang besar tapi kebanyakan terbuat dari kamar-kamar kecil. Mereka juga tidak menghadap Mekkah. Mereka menghadap Petra.
The term in the Qur’an which the Traditionalist thinks indicates an annual tax of 2.5% on savings  is zakāt. The word zakāt means purity. Nowhere in the Qur’an does it say that it is a tax of 2.5%. Nowhere does it say it is a tax of any sort. The Qur’an tells us to give something of whatever God gives us in order to purify our souls. It tells us to render a fixed tax of 20% on all spoils of war. There is nothing else. The specifics the Traditionalist claims for zakāt as an obligatory tax at a set rate which is associated with the religion of Islam are nowhere in the Qur’an. Istilah dalam Qur’an yang para Tradisionalis indikasikan sebagai pajak tahunan 2,5% atas simpanan adalah zakāt. Kata zakāt berarti kesucian. Qur’an tidak menyatakan bahwa zakāt adalah pajak 2,5%. Qur’an juga tidak menyatakan bahwa zakāt adalah sejenis pajak. Qur’an memerintahkan kita untuk memberikan sebagian dari apapun yang Allah berikan kepada kita sebagai cara untuk mensucikan jiwa kita. Qur’an memerintahkan kita untuk membayar pajak tetap sebesar 20% dari semua pampasan perang. Tidak ada lainnya. Hal-hal spesifik yang diklaim para Tradisionalis untuk zakāt sebagai kewajiban pajak pada angka tertentu terkait agama Islam, tidak ada dalam Qur’an.
The word ramaḍān occurs once in the Qur’an (2:185). The word ramaḍān means vehemently hot or vehemently heated (of the ground in the sun). It also denotes vehemence of action (lit. of the fallingof the sun upon the stones and sand, etc.; the burning and intense heat of summer. This word was attached to a particular month only subsequent to the Qur’anic revelation and it falls in all parts of the year – including the winter – since the Islamic calendar is lunar. The Qur’an simply says Whoso among you witnesses the moon (i.e. new month), let him fast in it. It does not specify any particular month. The verb ṣāma (to fast) takes it as a direct object. It is clearly a time phrase since if it denoted fasting from a thing the preposition would be min (from). Nouns indicating time (day, hour, etc.) when they appear with no preposition indicate on or in (cf. on the day, in the hour). They do not indicate during or over the course of. Lane in his authoritative Arabic-English Lexicon (p. 1759) feels the needs to confront this problem explicitly and states that ṣāma ashshuhra (which is the form here) actually means ṣāma fī ashshuhra. What he is trying to do is bring what the Qur’an says (let him fast in) into line with Traditionalist dogma (let him fast during or over the course of it) because he (correctly) understands that the words on the page do not tally with what the Traditionalist wants them to say. The simple fact is that the Qur’anic position is that believers are encouraged to fast in each month. How many days one fasts – like the amount of charity one gives – is left to the believer to decide. The minimum amount is at least something. Anything above that is left to the individual. Kata ramaḍān muncul sekali dalam Qur’an (QS Al-Baqarah (2) ayat 185). Kata ramaḍān berarti panas terik atau dipanasi secara terik (tentang tanah di bawah sinar matahari). Kata itu juga menunjukkan tindakan berapi-api (secara literal. dari jatuhnya) sinar matahari pada bebatuan dan pasir, dst.; musim panas yang terik dan membakar. Kata ini dilekatkan kepada bulan tertentu hanya sesudah pewahyuan Qur’an dan jatuh pada semua bagian waktu dalam tahun – termasuk musim dingin – karena kalendar Islam adalah kamariah. Qur’an secara sederhana berkata Barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan (yaitu, bulan baru), berpuasalah. Qur’an tidak menetapkan bulan tertentu. Kata-kerja ṣāma (puasa) diikuti oleh itu sebagai objek langsungnya. Jelas hal itu adalah sebuah frasa waktu karena seandainya hal itu menunjukkan berpuasa dari sesuatu maka kata-depannya adalah min (dari). Kata-benda yang menunjukkan waktu (hari, jam, dst.) bilamana muncul tanpa kata-depan menunjukkan pada atau dalam (contoh: pada hari, dalam jam). Kata-benda itu tidak menunjukkan selama atau dalam sebuah rentang waktu. Lane dalam karya otoritatif Arabic-English Lexicon (halaman 1759) merasa wajib mengatasi masalah ini dan menyatakan bahwa ṣāma ashshuhra (yang merupakan bentuk dalam ayat ini) sesungguhnya berarti ṣāma fī ashshuhra. Apa yang dicobanya adalah mendekatkan apa yang dikatakan Qur’an (berpuasalah dalam) menjadi pengertian dogma Tradisionalis (berpuasalah selama atau berpuasalah dalam rentang waktu) karena ia memahami (secara benar) bahwa kata-kata dalam Qur’an itu tidak sesuai dengan keinginan para Tradisionalis. Faktanya, Qur’an menyatakan kaum beriman supaya berpuasa dalam setiap bulan. Adapun tentang berapa hari seseorang berpuasa – seperti halnya jumlah sedekah yang diberikan seseorang – diserahkan keputusannya kepada mereka. Paling sedikitnya ada. Lebih dari itu terserah kepada yang bersangkutan.
The fact is that Makkah is a later construct. All the Qur’anic evidence points to Muhammad as a citizen of Petra (see Article XVIII in the Appendix of my translation of the Qur’an which you can download free below). Makkah appears on no map until around 900 CE. Makkah fails to impress on the basis of clear descriptions in the Qur’an. The word makkah occurs once in the Qur’an. It is a simple noun and means destruction and that sense matches the context in which it is found. At the very least, the pilgrims who visit Makkah each year are going to a site that Muhammad never visited and likely never heard of. However, we should note that the requirement for pilgrimage (3:97) is in the past tense (just like the story of Moses crossing the sea or the destruction of the city of Lot). It is a history. And at 9:28 – once we have seen past the Traditionalist’s corruptions – it is clear that the believers are told to abandon that location in any case. The point of the Hajj was to warn the tribes to turn to God alone. That job done, it served no further purpose. Fakta, Mekkah adalah konstruksi belakangan. Semua bukti Qur’ani menunjukkan Muhammad sebagai warga kota Petra (lihat Article XVIII dalam Appendix terjemahan Qur’an yang saya lakukan, dapat diunduh gratis di sini). Mekkah tidak ada dalam peta sampai sekitar 900 Masehi. Mekkah tidak mengesankan berdasarkan deskripsi jelas dalam Qur’an. Kata makkah muncul sekali dalam Qur’an. Kata itu adalah sebuah kata-benda sederhana dan berarti penghancuran dan makna itu cocok dengan konteks ayat kata itu ditemukan. Sedikitnya, para peziarah yang mengunjungi Mekkah setiap tahun akan mengunjungi sebuah tempat di mana Muhammad tidak pernah berkunjung dan sepertinya tidak pernah mendengarnya. Tetapi, kita harus catat bahwa perintah untuk berziarah (QS Ali ‘Imran (3) ayat 97) ada dalam bentuk kalimat lampau (past tense) (seperti kisah Musa menyeberangi laut atau penghancuran kota Luth). Itu sejarah. Dan pada QS At-Taubah (9) ayat 28 – setelah kita bebas dari penyimpangan pemahaman para Tradisionalis – jadi jelas bahwa kaum beriman diperintahkan untuk meninggalkan lokasi tersebut apa pun yang terjadi. Tujuan Haji adalah mengingatkan para suku-suku untuk mengikuti Tuhan semata. Tugas itu telah selesai, tempat itu tidak lagi punya tujuan.
Thus, the foundation of Islam is nowhere found in the Qur’an. And since this foundation bears no relation to the Qur’an, anything built thereon – and there is much built thereon – can have no relation to the Qur’an either. Jadi, pondasi Islam tidak ada dalam Qur’an. Dan karena pondasi ini tidak terkait dengan Qur’an, segala sesuatu yang dibangun di atasnya – dan memang banyak hal yang dibangun di atasnya – tidak berkaitan juga dengan Qur’an.
The hadith is the sole foundation of the religion of Islam and we should cease conflating the Qur’an with a religion with which it has no genuine connection. Hadits adalah satu-satunya pondasi agama Islam dan kita harus berhenti mencampuradukkan Qur’an dengan sebuah agama yang tidak memiliki hubungan sejati dengannya.
The Qur’an regards itself in an entirely different light. I have scrutinised it in great depth and I can find no religion in it. Rather, it is a book of guidance. Qur’an memandang dirinya sendiri secara sangat berbeda. Saya telah memeriksanya dengan sangat teliti secara mendalam dan saya tidak menemukan agama di dalamnya. Alih-alih, Qur’an adalah buku pedoman.
It provides: Qur’an memberikan:
General principles for right living Prinsip-prinsip umum hidup yang benar
Historical examples of the overthrow of tyranny (and the method to do so at any time) Contoh-contoh sejarah penumbangan tirani (dan metoda untuk melakukannya kapan pun)
Insight into the meaning of this life and what awaits us in the next Pemahaman tentang makna hidup ini dan apa yang menunggu kita di akhirat
Good news and warning Kabar baik dan peringatan
Other histories Sejarah-sejarah lain
Religion is a racket – along with all the other rackets. Agama adalah tipuan – bersama semua tipuan lain.
I urge those who understand this and are open to a revelation from God on the basis of its own merits – and not those of a religion created much later – to consider its contents for themselves. Saya mendesak mereka yang memahami ini dan terbuka kepada sebuah wahyu dari Tuhan berdasarkan wahyu itu sendiri – dan tidak berdasarkan suatu agama yang diciptakan lama sesudahnya – untuk mengkaji sendiri isinya.